pakupaku
Friday, 23.09.2005 13:44

Analisa Film : Rain Man

Posted on Psychology.

Film yang disutradarai Barry Levinson ini menceritakan kisah bagaimana seorang adik menjalin hubungan dengan seorang kakak yang menderita autisme. Adalah Charlie Babbitt (Tom Cruise), seorang pengusaha muda yang energik, workaholic, pemarah, penuh muslihat dan pintar berkilah mendapat warisan dari bapaknya yaitu sebuah mobil klasik dan bunga. Urusannya menjadi lain ketika sebagian besar harta bapaknya sebesar 3 milliar dolar diwariskan kepada seseorang yang ternyata adalah kakaknya sendiri, yaitu Raymond Babbitt(Dustin Hoffman).

Raymond Babbit adalah seorang penderita autis savant yang dipisahkan dari saudaranya Charlie setelah ibu mereka meninggal dunia pada tahun 1965. Raymond ditempatkan pada sebuah lembaga penampungan orang autis Wallbrook di Cincinnati sedangkan Charlie minggat dari rumah ayahnya pada masa remaja tanpa mengetahui bahwa ia memiliki seorang kakak.


Kesulitan keuangan dan ketidakpuasan karena sebagian besar harta bapaknya yang jatuh pada Raymond membuat Charlie menggunakan segala cara untuk mendapatkan sebagian harta warisan itu dengan mendekati dan membawa pergi Raymond dari Wallbrook agar mendapat hak perwalian atas Raymond berikut dengan harta yang dimilikinya.

Namun pengalaman dan petualangan baru bersama Raymond yang abnormal, membuat hati Charlie yang penuh keserakahan menjadi sadar. Motivasinya pun berubah dari keinginan untuk mengambil sebagian harta Raymond menjadi rasa sayang dan ingin menjalin hubungan persaudaraan dengan kakaknya itu, yang diketahuinya juga sebagai teman bermainnya pada waktu kecil yang dikenal dengan Rain Man.

Kisah ini berakhir dengan kedekatan Charlie dan Raymond, dimana akhirnya Charlie menerima Raymond apa adanya dengan segala pola kehidupannya dan mengesampingkan harta warisan yang semula diperebutkannya meskipun pada akhirnya mereka berdua harus berpisah kembali.

ANALISA :
Penjelasan mengenai autisme hampir sama dengan apa yang telah penulis utarakan pada tugas sebelumnya yang membahas film dengan kasus yang sama tentang autisme. Perbedaannya yaitu umur penderita, jika di film mercuri rising penderita yang diceritakan adalah seorang anak kecil, maka di film ini penderitanya telah memasuki usia tengah baya. Berikut kutipan penjelasan tentang autisme dari tugas sebelumnya :

Autisme berasal dari bahasa Yunani, yaitu autos yang artinya diri yang tidak berdaya. Menurut Kamus Lengkap Psikologi J.P Chaplin (2001), ada tiga pengertian autisme :

1. cara berpikir yang dikendalikan oleh kebutuhan personal atau diri sendiri. 2. menanggapi dunia berdasarkan penglihatan dan harapan sendiri dan menolak realitas. 3. keasyikkan ekstrim dengan pikiran dan fantasi sendiri.

Dalam Pedoman Penggolongan dan Gangguan Jiwa (PPDGJ) edisi ke III, autisme digolongkan dalam gangguan perkembangan pervasif dengan kode F.84. Gangguan perkembangan pervasif adalah gangguan yang ditandai dengan kelainan kualitatif dalam interaksi sosial yang timbal balik dan dalam pola komunikasi, serta minat dan aktivitas terbatas, stereotipik, berulang yang menunjukkan gambaran yang pervasif dari fungsi – fungsi individu dalam semua situasi dengan derajat keparahan yang berbeda – beda.

Penyebab autisme sampai saat ini belum dapat diketahui secara pasti, namun ada beberapa faktor predisposisi yang memungkinkan terjadinya autisme, yaitu: faktor genetik, faktor hormonal, kelainan pranatal, proses kelahiran yang kurang sempurna, serta penyakit tertentu yang diderita sang ibu ketika mengandung atau melahirkan sehingga menimbulkan gangguan pada perkembangan susunan saraf pusat yang mengakibatkan fungsi otak terganggu.

Pada sebagian anak gejala autisme sudah nampak semenjak lahir, namun sebagian pula sempat mengalami perkembangan sebagai anak normal, dan akhirnya perkembangannya itu berhenti sebelum mencapai usia 3 tahun. Gejala autis sangat terlihat jelas ketika anak berusia 3 tahun. Hal yang menarik lainnya dari autisme yaitu gejala ini lebih banyak ditemukan pada anak laki-laki dibandingkan anak perempuan dengan perbandingan 3:1.
Dalam film ini diketahui bahwa Raymond adalah penderita autis savant yaitu memiliki gangguan mental dalam cara input dan prosesnya namun masih bisa berfungsi sebagaimana manusia pada umumnya untuk melakukan berbagai kegiatan, dimana ia masih bisa berhubungan dengan orang lain meskipun sangat terbatas dan memiliki suatu kelebihan tertentu terutama dalam mengingat segala hal dan memperhatikan sesuatu secara detail.

Simpton – simpton autisme yang ditunjukan dalam film ini, yaitu :

1. adanya gangguan kualitatif dalam interaksi sosial yang ditunjukkan dengan simpton sebagai berikut:

- Raymond tidak memperhatikan orang – orang di sekitarnya, terutama ketika berbicara atau berhubungan dengan orang lain. Contohnya yang paling terlihat yaitu ketika diajak bicara oleh Charlie di taman maupun ketika Charlie harus mengingatkan Raymond untuk menjawab ketika psikolog menanyainya.

- Raymond jarang menatap orang – orang di sekitarnya, baik ketika sedang bicara maupun tidak.

2. adanya gangguan kualitatif dalam komunikasi verbal dan non verbal, antara lain:

- Raymond tidak dapat berbicara layaknya orang normal, lamban dalam berbicara, kadang tidak jelas, penggunaan kata yang tidak teratur, hanya menjawab pertanyaan dengan singkat, dengan intonasi yang ketat dan seperti tertekan, sering mengulang – ngulang kata yang pernah didengarkannya dan berteriak jika merasa dalam bahaya, serta sering memanggil dan mengeja nama teman dekatnya jika ia merasa cemas.

- Dalam berkomunikasi Raymond tidak menunjukkan ekspresi, atau mimik wajah yang mendukung dengan pembicaraannya. Tidak tampak kesedihan ketika harus berpisah dengan saudaranya atau mendengar ayahnya yang meninggal dunia. Tidak ada ekspresi senang ketika berkomunikasi dengan saudaranya yang mendapatkan kemenangan dalam bermain judi dan juga ketika berdansa dengan saudaranya maupun pacar saudaranya. Selain itu Raymond yang senang mengulang lelucon Who’s on First tidak mengiringinya dengan tertawa atau emosi lucu, dia tidak pernah mengerti makna yang menyertai lelucon tersebut.

- Cara berjalan Raymond yang khas yaitu dengan langkah yang kecil dan kepala sedikit dimiringkan ke salah satu sisi.

3. adanya gangguan dalam pola perilaku, minat dan aktifitas yang terbatas, berulang dan stereotipik, yaitu:

- Adanya rutinitas/ritual yang spesifik dan non fungsional seperti menonton acara – acara TV pada jam tertentu, pola hidup yang sangat terjadwal terutama waktu tidur malam ataupun kegiatan sehari – hari.

- Minat Raymond terbatas pada hal – hal tertentu seperti misalnya menonton acara televisi tertentu, makan dengan menu tertentu, tidur dengan ranjang yang dekat dengan jendela.

- Sering mengulang perilaku tertentu (manerisme motorik stereotipik dan berulang), Raymond senang sekali mengulang kata – kata baru, ataupun mengatakan lelucon dari Abbott and Costello’s Who’s on First meski tanpa tahu maknanya, dan ketika Raymond panik ia akan mengoyangkan- goyangkan badan, membalik – balikkan buku, menyusun-nyusun kartu, memukul – mukulkan kepalanya ataupun membentur – benturkan kepalanya.

4. adanya gangguan emosi, yakni jika ia merasa terancam atau cemas ia akan berteriak – teriak tanpa mempedulikan orang di sekitarnya, tidak bisa menunjukkan emosi marah, senang, atau sedih sesuai dengan situasi lingkungan pengalamannya atau pembicaraan dengan lawan bicaranya.

5. adanya gangguan sensory, seperti misalnya perilaku menutup telinga apabila mendengar suara – suara tertentu yang keras ataupun jarang didengar. Dengan demikian telinganya sangat peka dan tidak tahan bunyi – bunyian yang keras. Jika kita melihat dalam peristiwa di dapur yang berasap si Raymond tidak dapat membaui asap hangus, begitu pula ketika ia kentut ia tidak dapat membauinya. Ini berarti ada gangguan juga pada sensor penciumannya, dimana alat inderanya mungkin normal namun proses input dan intepretasinya yang berbeda atau mengalami gangguan.

6. adanya kelebihan atau kemampuan khusus/spesial, misalnya Raymond dapat mengingat acara televisi secara keseluruhan, dapat menyebutkan semua peristiwa dan semua hasil pertandingan dengan tepat dan mendetail, dapat menggambar bangunan dengan detail, mampu melakukan penghitungan matematika dengan cepat dan tepat, dapat menghitung tusuk gigi dengan akurat dan menghitung kartu dan probabilitasnya dengan tepat. Namun demikian kemampuan ini tidak semua dimiliki oleh setiap anak autis dan jarang sekali ditemukan kasusnya. Seorang autis yang memiliki kemampuan ini dikenal dengan autis savant.

Stressor atau kejadian – kejadian dalam film tersebut yang membuat Raymond sangat cemas, yaitu ketika menolak untuk dipaksa naik pesawat terbang, ketika berada di ruang sempit yaitu di gardu telepon umum, ketika akan dipeluk oleh Charlie, ketika melihat air panas yang mengalir dalam kamar mandi dan ketika terkunci dalam dapur yang berasap dengan signal alarm tanda kebakaran. Pada umumnya semua hal yang keluar dari pola rutinitas atau kebiasaannya sehari – hari, termasuk kebiasaan membeli celana dalam di K-Mart Cincinnati dapat membuat Raymond cemas dan meributkan hal itu sepanjang hari.

Raymond memiliki karakter yang super cuek, tanpa peduli orang di sekitarnya, tekun dalam suatu hal yang diminati misalnya membaca ataupun menonton tv, hidupnya sangat terpola dengan ritual kebiasaannya, menunjukkan kecemasan jika seseorang menganggu pola ritualnya, dapat mengingat dengan baik apa yang dipelajarinya, dapat menghitung jumlah tusuk gigi dan kartu yang akan keluar. Kadang memiliki ingatan akan masa lalu contohnya mengingat kejadian dimana ia sering menyanyikan lagu buat Charlie saudaranya. Jika ia menyukai seseorang ia akan menunjukkannya dengan berkata “Apakah kamu dalam pengobatan?” namun jika ia cemas ataupun tidak suka dengan situasi atau seseorang ia akan mengulang – ulang lelucon “Who on first”.

Raymond sejak kecil telah tinggal dalam tempat penampungan anak autis sehingga kehidupannya telah telah terpola sampai ia besar. Dalam film ini tidak ditunjukkan secara jelas bagaimana proses penanganan dan terapi bagi orang autis.

Penanganan orang autis secara detail telah dijelaskan dalam tugas terdahulu, dimana penderita autis akan dilatih untuk dapat hidup mandiri meskipun dalam keterbatasan seperti yang tampak pada diri Raymond.

Treatmen yang diberikan bagi penderita autis yaitu :

1. Pendidikan khusus yaitu belajar membaca, menulis, bermain musik, memasak, mencuci, mengganti baju, ataupun ketrampilan – ketrampilan lainnya yang menunjang kemandirian.

2. Terapi – terapi yang lainnya seperti terapi okupasi (gerakan), terapi bicara, terapi makanan dan terapi obat – obatan digunakan untuk melatih dan menjaga perkembangan fungsi tubuh agar tidak terganggu.Treatmen tersebut biasanya efektif dilakukan pada penderita autis yang masih kecil untuk membentuk pola ritual yang baik. Penderita autis yang telah dewasa umumnya telah memiliki pola tertentu sehingga tidak diperlukan treatmen khusus selain menjaga kesehatan fisik mereka dengan makanan maupun menempatkan mereka dalam lingkungan yang kondusif dan tidak berbahaya.

Umumnya pendekatan yang digunakan dalam treatmen tersebut adalah pendekatan behaviouristik dengan penggunaan pengukuhan (reward) untuk membentuk suatu perilaku yang diinginkan.

Sosial support dari keluarga maupun orang disekitarnya tidak boleh diabaikan dalam merawat orang – orang autis terutama dalam mengurangi stressor – stressor yang ditimbulkan oleh situasi maupun lingkungan bagi penderita autis. Termasuk juga dukungan sosial bagi keluarga – keluarga yang merawat orang – orang autis ataupun dengan membuat perkumpulan keluarga yang merawat orang autis agar mereka dapat saling mendukung satu sama lain.

Sekali lagi diutarakan bahwa autisme memang tidak dapat disembuhkan secara total, namun demikian diharapkan semakin dini dalam penanganan penderita autisme semakin besar kesempatannya untuk dapat berperilaku normal, mandiri dan mampu menyesuaikan diri terhadap lingkungan sekitarnya.

Sumber Referensi:
Andi Sangat Cuek Ia Menderita Autisma,” Kumpulan Artikel Intisari Psikologi Anak, Jakarta: PT. Gramedia, 1996.
Autism,” http://www.psychologytoday.com/
Chaplin, J.P, Kamus Lengkap Psikologi, terj. Kartini Kartono. Jakarta: PT. RajaGRafindo Persada, 2001.
Etty, Maria. “Harapan Bagi Penyandang Autis,” http://www.wartamikael.org, 2001.
Maslim, Rusdi, ed. Buku Saku PPDGJ III, Jakarta, 1995.

Tags: , , , ,

Mood :

8 Responses :


1. Kamen Rider Z-3 Says:

This is what i needed brother, thanks very much, may He always by your side forever and ever, amin:)



2. atree Says:

wah, ternyata autis bisa terjadi dengan orang dewasa, makasih… tulisannya bisa menambah referensi di cerpen saya



3. resti Says:

wah. wah..bwt novel yang mau saya bikin, kurang informasi tentang kisah nyata penderita autis yang udah dewasa. padahal itu penting bgt. kenapa kita cuma ngebahas soal penderita autis saat mereka masih kecil? kenapa nggak berbagi cerita tentang penderita autis yang sudah dewasa. bagaimana kehidupan sosialnya, bagaimana kehidupan remajanya, tentang keluarganya, bahkan…tentang cintanya. apakah ada penderita autis yang menikah? saya rasa itu informasi yang cukup penting!



4. mujahidah Says:

wahh…ulasan anda keren sekali ketika mengaitkan dengan psikologi….
i really love to
ujin ngopi ulasan psyconya yaa untuk dokumen pribadi
matur tengku



5. viona_gets Says:

wah telat baca blog ini,, padahal semester 4 kmarin waktu ngontrak matkul PD2 (obsv) ada tugas analisa film ini nih..



6. SPARROW Says:

RAINMAN IS GOOD



7. OWNER Says:

terima kasih kawan,
tulisanmu memberikan inspirasi baru untuk tugas kuliah :)



8. RAIN MAN : Sebuah ulasan psikologis mengenai autis savant « amavolta Says:

[...]  ( 2005). Analisa film rain man. Retrieved from http://blog.kenz.or.id/2005/09.....n-man.html [...]



Leave a Reply





XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>



pakupaku

kenzKENZ.
Live in JOGJA [IDX0058] - INDONESIA,
interested in study about human behavior, enjoy some activities like coding, hiking in the mountains, surfing on the net, and listening 'hanging'.

Life Age: 13556 days
Emotional
78.2%
Bioritme Status
Physical
63.1%
Bioritme Status
Intellectual
-97.2%
Bioritme Status





Jangan Asal
Copy Paste, Blog Juga Hasil Karya Cipta.


Bloglines
Feedburner
Get KlipFolio
Get Firefox
Get Opera
Valid XHTML

Catatan Hanging RSS Feed RSS Entries
Catatan Hanging Comments RSS Feed RSS Comments
Catatan Hanging SideNotes RSS Feed RSS SideNotes

26q. 0.107s.
Powered by WordPress
© 2006
All rights reserved.

Kode Etik Blogger Indonesia