pakupaku
Saturday, 21.01.2006 9:01

Singapura : Negeri Diantara Barat dan Timur [1]

Posted on Journey.

Entah angin apa yang membawa saya kali ini, saya sudah terduduk di pesawat Boeing 737 Lion Air yang telah bersiap melakukan take off menuju Batam. Padahal saya baru saja menginjakkan kaki di Jakarta dengan Kereta Senja Utama Yogyakarta pagi itu.

1cengkareng.png

Hujan menyambut kedatangan saya di Bandara Udara Hang Nadim Pukul 14.57 BBWI. Seorang sopir taksi langganan teman saya sudah menunggu kami dan mengantarkan kami ke pelabuhan Batam Center Point. Banyak sekali calo yang bisa mengantarkan kita melalui jalur ‘tikus’ untuk menghemat biaya imigrasi. Mereka menggunakan kode-kode bahasa tubuh tertentu untuk koordinasi dengan petugas imigrasi.

Kami membeli tiket ferry Batam Fast BATAM – SG – BATAM. Harganya $20 untuk pulang pergi. Ada diskon pada masa promosi sehingga kita hanya membayar $15 untuk pulang pergi Indonesia Singapura.

3feri.png

2batam.png

Kapal kami meninggalkan Batam jam 16.00, 45 menit kemudian saya sudah merasakan perbedaan atmosfer budaya yang berbeda dengan negeri saya. Secara tampak mata perbedaan itu bisa terlihat dengan kondisi Harbour Front, pelabuhan Ferry Singapura.

4port.png

Doh! Saya lupa mengisi alamat tujuan di kartu imigrasi. Ini membuat saya harus berurusan dengan petugas Imigrasi Singapura. Hehe.. lagi – lagi…

Keadaan sore itu masih terang di Singapura, tapi jam di Harbour Front sudah menunjukkan pukul 18.00, berbeda satu jam dengan Waktu Indonesia. Pelabuhan Ferry ini ternyata menjadi satu dengan Mall. Baru kali pertama ini saya membawa carrier gunung saya masuk Mall. Haha…

38tas.png

Teman SMA saya sudah menunggu di Harbour Front, lalu kita makan di Food Court sambil memikirkan dimana saya akan tinggal di Singapura. Fiuh… Untunglah saya memiliki adek kelas di NTU, atas kebaikan hatinya saya mendapatkan tempat penginapan terbaik ;)

24 Juli 2005
Ngantuk banget, hari masih gelap tapi jam sudah menunjukkan jam 6 pagi, wah! tidak sesuai dengan jam biologis saya, sehingga saya pun melanjutkan tidur sampai hari benar-benar terang yaitu jam 10 disini.

Seperti rencana semula, teman saya mengajak bertemu dan makan siang di Far East Shopping Center kawasan Orchard Road. Kami naik bis dari NTU ke stasiun MTR Boon Lay. Di stasiun ini saya membeli kartu ezlink, sebuah kartu yang bisa menjadi tiket berbagai transportasi di Singapura seperti Bis dan MTR.

22sts.png

Oh maaf, kereta cepat di singapura bukan MTR namanya, tapi MRT. MTR itu kereta cepat di Hongkong. Ada perbedaan yang saya rasakan ketika naik MTR di Hongkong dengan MRT di Singapura. MTR Hongkong terasa lebih cepat jalannya, begitu pula dengan tangga berjalan di stasiun MTR-nya yang juga sangat cepat. Orang Hongkong sangat menghargai waktu, sehingga mereka tidak segan-segan untuk berlari dan berjalan cepat sehingga fasilitasnya pun menyesuaikan perilaku orang disana. Persamaan keadaan transportasi di HK dan SG adalah kenyamanan dan kebersihannya, sangat berkebalikan dengan keadaan alat tranportasi umum di negara saya.

Berhubung yang ditunggu belum juga datang, sementara perut kami sudah kelaparan. Kami berempatpun mendahului makan di salah satu kedai makan Far East Shopping Center. Menurut informasi pemandu saya yang cantik itu ;) Teman-teman Indonesia banyak yang mencari makan di tempat ini, selain karena harganya yang terjangkau juga karena banyak makanan yang halal disini.

Orchad Road merupakan lingkungan pertokoan yang sangat ramai. Banyak sekali mall besar dan toko berjajar sepanjang jalan ini. Barang-barang yang dijual pun lengkap, namun harganya agak sedikit mahal. Mungkin ini surga bagi turis-turis yang memiliki uang banyak, tapi tidak dengan saya yang cukup puas untuk memandangi harga barang-barangnya saja.

Setelah makan untuk kedua kalinya karena teman kami itu ternyata belum makan juga padahal kami sudah selesai makan. Kami pun naik bis gratis yang tersedia bagi turis dari Orchad Road menuju Gereja Bernadette. Saya dan teman-teman pun mengikuti Misa Minggu di Gereja Bernadette dan kebetulan sekali waktu itu misa dibawakan dalam bahasa Indonesia sehingga saya merasa seperti mengikuti misa di Indonesia. Setelah misa, ada panganan yang dibagikan gratis di belakang gereja. Kesempatan itu kami gunakan untuk melakukan reuni, dan reuni itupun terkenal dengan reuni bebek sg.

5reuni.png

Puas berphoto-photo, kami menonton konser amal yang juga diadakan di belakang gereja.

Sore itu kami berjalan kaki menyusuri jalanan melewati esplanade menuju Suntec City. Tiga pemandu kami yang handal, menuntun kami melewati jalanan dan gedung – gedung yang menarik untuk kami lihat di malam hari.

10street.png

Kami tiba di Suntec City sekitar jam 7 malam, beristirahat sejenak di Koi Garden. Sebuah kolam di dalam gedung yang dipenuhi oleh ikan koi.

6koigarden.png

Lalu kami menuju ke Fountain of Wealth untuk melihat tarian sinar laser diantara air mancur yang cukup indah. Suasananya romantis sekali disini, tak jarang beberapa orang menyampaikan pesan cintanya melalui tulisan yang keluar dalam tarian cahaya tersebut. Ada beberapa mesin yang tersedia di bawah tempat ini yang bisa menampilkan pesan kita tanpa dipungut bayaran.

7suntec.png

Setiap beberapa jam sekali, tarian cahaya dan air mancurnya berhenti. Kesempatan itu dipakai oleh banyak orang untuk mengitari sebuah ring di pusat Fountain of Wealth yang terdapat banyak air mancur kecil. Menurut kepercayaan kita harus mengelilingi ring itu sebanyak 7 kali sambil menyentuhkan tangan ke air mancur kecil agar permohonan kita terkabul.

8wealth.png

Masih menurut cerita teman saya, Fountain of wealth dibangun sedemikian rupa dengan besi besar yang menyilang dari 4 penjuru mata angin sehingga kekuatan unsur logam terpusat di bagian tengah. Penyatuan unsur logam dan air berdasarkan ilmu Feng Shui akan mendatangkan kekayaan dan kesejahteraan.

9explade.png

Dari Suntec City, kami kembali menyusuri jalanan esplanade menuju stasiun MRT Citty Hall. Kali ini kami menyempatkan nongkrong di kawasan esplanade untuk memanjakan kaki yang sudah lelah berjalan. Di kawasan explanade ini terdapat sebuah gedung yang atapnya mirip durian, gedung ini merupakan sebuah gedung tempat pertunjukan seni digelar.

11durian.png

Tidak jauh dari gedung ini terdapat Gedung Parlemen Lama, Museum tempat Sir Stamford Raffless mendarat pada tahun 1819. Raffles adalah pendiri Negeri Singapura modern. Di sisi lain kawasan esplanade terdapat Merlion Park. Tampak sebuah patung kecil menghadap ke laut dan dari mulutnya mengeluarkan air mancur. Merlion adalah simbol negara Singapura. Simbol ini menggambarkan binatang setengah ikan dan setengah singa.

12lion.png

Setelah puas melepas lelah di kawasan esplanade, kami berpisah dan pulang ke rumah masing-masing jam 10 malam.

25 Juli 2005
Pagi ini saya diantar ke tempat teman saya yang lain di asrama NTU. Hari itu adek kelas saya ada acara sehingga tidak bisa menemani saya jalan-jalan. Untungnya saya masih punya guide yang lain, yaitu adeknya temenku.

Asrama NTU terdiri dari banyak blok dan masih satu kompleks dengan universitasnya sendiri. Satu blok merupakan satu gedung yang bertingkat tinggi. Kemiripan semua kamar dan gedung membuat susah melakukan orientasi medan. Adek kelas saya saja sampai tersasar beberapa kali untuk menemukan kamar teman saya itu. Andai saja asrama vanlith seperti ini *berkayal mode on* !Saya tentunya akan memilih tinggal di asrama dibandingkan kos.

Di beberapa sudut asrama ini, terdapat seperti keran air dengan besi yang memanjang. Awalnya saya tidak tahu fungsi alat itu, namun setelah melihat adek kelas saya sering menyodorkan kepalanya di alat tersebut saya akhirnya tahu juga. Hehehe… Ternyata itu tempat minum. Air keran di Singapura, aman untuk diminum terkecuali yang ada di kamar mandi tentunya. Oh ya, saya kok sedikit bingung ya kalau sudah berhadapan dengan WC di luar negeri. Di HK juga gitu, tapi kayaknya sih masih parah di SG. Sepertinya saya harus cari wawasan untuk ini.

Pagi ini saya mengikuti adek teman saya mengikuti kuliah di NTU. Doh! Pelajaran statistika. Pelajaran angka yang tidak sesuai dengan aliran otak saya. Tidak begitu banyak perbedaan dengan kuliah di UGM. Perbedaan yang ada yaitu hanya masalah fasilitas tempat dan bahasa yang digunakan. Fasilitas perkuliahan lebih lengkap disini, dan ruangan-nya pun sangat nyaman sekali. Beberapa mahasiswa mencatat menggunakan laktop, dan semua tampak memperhatikan dengan baik, jarang ada yang ngobrol sendiri.

Kuliah hanya berlangsung kurang dari satu jam. Lalu saya diajak untuk menonton pameran Unit Kegiatan Mahasiswa. Banyak sekali pilihan UKM yang dapat diikuti oleh mahasiswa NTU. Bagi penghuni asrama NTU, ini adalah ladang untuk memperoleh point nilai. Semakin banyak kegiatan yang diikuti semakin banyak pula point yang didapatkan. Semakin banyak point semakin mudah untuk mendapatkan beberapa fasilitas di asramanya.

Adek teman saya mengajak saya melihat perpustakaan dan kantin kampusnya. Di kantin ini kami membeli prata. Prata ini sejenis makanan india yang murah namun mengenyangkan. Pas sekali dengan selera mahasiswa dan prinsip ekonomi, yaitu mendapatkan kenikmatan maksimal dengan pengorbanan yang sekecil-kecilnya ;) Satu porsi prata saja sudah membuat saya kenyang siang itu.

38prata.png

Kami bertiga hari itu memulai perjalanan menuju People’s Park Centre di China Town untuk menemui teman kerja teman saya. Meski hujan, namun kami tidak kehujanan karena banyak pertokoan di china town yang bisa dijadikan tempat berteduh. Di China Town ini, terdapat kawasan pedagang kaki lima yang cukup teratur. Disini dijual berbagai aksesoris dan benda-benda yang bisa dijadikan oleh-oleh seperti pakaian, cinderamata, jam tangan, aksesories, dan lain – lainnya. Harganya juga murah dan terjangkau.

41chntown.png

Kami makan siang di Food Court China Town. Tempat ini merupakan tempat makan yang cukup ramai dan pas bagi golongan ekonomi menengah karena harganya yang jauh lebih murah daripada makan di Food Court di Orchad.

16chnmakan.png

Makanan yang dijual di sini kebanyakan adalah chinese food. Rata-rata harga makanannya berkisar antara $2-$4 SG . Banyak orang bercakap-cakap dengan keras sembari makan sehingga suasananya cukup hingar bingar. Saya mencoba Duck Coast Rice. Porsinya cukup banyak juga. Hmmm.. daging bebeknya empuk.. enak deh.

15rroastduckrice.png

Hujan deras membuat kami tertahan di China Town. Kami berteduh di depan pertokoan. Di seberang jalan kami tampak Sri Mariamman Temple, sebuah kuil yang cukup antik dan telah berdiri sejak tahun 1827.

42sri.png

Tujuan selanjutnya adalah Bugis. Disini terdapat toko yang bernama Mustofa Centre. Harga barang – barang di toko ini juga cukup murah dan terjangkau, terutama barang- barang elektroniknya.

18bugis.png

Kami menyusuri jalan menuju litle india. Kawasan ini merupakan tempat tinggal bagi orang – orang India yang tinggal di Singapura. Cukup banyak orang India yang bekerja di negeri ini. Budaya khas India sangat terasa, terutama baunya. Bau khas jasmine.

31liteleindia.png

Situasi kawasan di litle india agak berbeda dengan kawasan lainnya. Mirip suasana pertokoan di Indonesia, tidak begitu teratur dan tidak sebersih seperti pertokoan lainnya di Singapura. Namun demikian masih lebih baik disini daripada suasana di Indonesia.

30street.png

Sore ini kami mencoba martabak India di sebuah warung India. Sambil menikmati pemandangan lalu lalang jalanan di kawasan ini yang tidak begitu ramai, kami menghabiskan waktu menunggu malam. Martabak India ternyata mirip prata, hanya saja lebih berisi dan lebih besar porsinya. Kami tidak bisa menghabiskan satu porsi martabak, terlalu banyak dan mengenyangkan.

20mtbindia.png

Malam ini, kami berjanji bertemu teman -teman kami di stasiun MRT Raffles. Rencananya malam ini kami akan ke Marina Bay untuk menikmati BBQ sambil reunian lagi. Keluar dari stasiun Marina Bay, sudah banyak para calo restauran yang menawarkan tempat dan juga kendaraan yang langsung menuju restoran BBQ di Marina Bay.

Teman kami sepertinya sudah biasa kesana, jadi dengan enaknya dia melakukan tawar-menawar harga. Setelah tawar-menawar akhirnya kami pun berangkat ke salah satu restaurant di kawasan itu. Saya kira saya akan menemui pantai. Namun ternyata pantainya masih jauh. Di tempat ini hanya terasa anginnya saja. Disini kami mengambil bahan BBQ sepuasnya dengan bebas dengan syarat apa yang kami ambil harus dihabiskan. Kamipun pulang dengan kenyang malam itu.

35marinabay.png

Tags: ,

Mood :

3 Responses :


1. vinna Says:

seneng deh, baca blog nya, informatif dan berguna sekali. tapi masih ada yang kurang jelas, boleh tanya-tanya lebih jelas dan detail lagi ?
thanks sebelumnya, japri by email aja ya…



2. Kenz Says:

@vinna: bagian mana yang belum jelas? silakan tanya saja :)



3. vinna Says:

mengenai barbeque, itu bayar berapa dan lokasi persisnya dimana ?sama kalau bisa rekomen tempat tinggal yang murah tapi ok, baik di orchard maupun di poeple park ? thanks ya



Leave a Reply





XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>



pakupaku

kenzKENZ.
Live in JOGJA [IDX0058] - INDONESIA,
interested in study about human behavior, enjoy some activities like coding, hiking in the mountains, surfing on the net, and listening 'hanging'.

Life Age: 13556 days
Emotional
78.2%
Bioritme Status
Physical
63.1%
Bioritme Status
Intellectual
-97.2%
Bioritme Status





Jangan Asal
Copy Paste, Blog Juga Hasil Karya Cipta.


Bloglines
Feedburner
Get KlipFolio
Get Firefox
Get Opera
Valid XHTML

Catatan Hanging RSS Feed RSS Entries
Catatan Hanging Comments RSS Feed RSS Comments
Catatan Hanging SideNotes RSS Feed RSS SideNotes

26q. 0.103s.
Powered by WordPress
© 2006
All rights reserved.

Kode Etik Blogger Indonesia