pakupaku
Monday, 23.01.2006 9:18

Singapura : Negeri Diantara Barat dan Timur [2]

Posted on Journey.

26 Juli 2005
Kami kembali menyusuri jalanan di kawasan Litle India. Dalam perjalanan itu saya akhirnya menemukan pasar barang-barang bekas. Ternyata ada juga disini, hampir mirip seperti pasar barang bekas di negeri saya.

29psrbekas.png

Tujuan selanjutnya adalah Clarke Quay, sebuah wisata di tepi sungai. Air sungainya tidak berbeda dengan air sungai di dekat rumahku. Hanya saja, saya tidak menemukan sedikit sampah dalam sungai tersebut. Kok bisa ya?
Di tepian sungai, berjajar tempat makan yang tertata dengan rapih dan diwarnai dengan apik. Ada juga wisata naik perahu diatas sungai yang bersih ini.

23clarck.png

Saya tertarik dengan dua besi yang menjulang, awalnya saya mengira itu bugee jumping. Tapi ternyata itu lebih parah dari yang saya perkirakan.

38plontar.png

Saya melihat dua orang turis memasuki ruangan semacam tabung. Lalu sesuatu yang tak pernah saya pikirkan pun terjadi. Tabung itu dilontarkan ke udara dengan cepat, lalu diputar berpilin -pilin ke atas dan kebawah. hek geilaa saya tidak bisa membayangkan seperti apa rasanya ada di dalam sana.

25clarkemtr.png

Jam 5 Sore seorang teman kami bergabung di sebuah stasiun. Lalu kami menyempatkan diri mampir ke China Town untuk membeli oleh-oleh. Saya pun menyempatkan membeli beberapa cinderamata, postcard dan jilbab untuk oleh-oleh teman saya di Indonesia.

32chntown.png

Ketika hari menjelang petang, kami menyempatkan makan di Food Court Harbour Front lalu kami naik kereta gantung dari Harbour Front menuju pulau Sentosa.
Kurang lebih 15 menit kami terayun-ayun di udara menikmati pemandangan kota Singapura dari ketinggian. Kalau tidak salah tiketnya $SG 11 untuk pulang pergi.

39tinggi.png

Tiba di pulau Sentosa, kami berlari-lari ke tempat dimana pertunjukan Musical Fountain akan dipertontonkan. Ternyata tempat yang seperti setengah stadiun kecil itu sudah dipenuhi ratusan penonton. Tempat duduknya yang strategis sudah penuh, sehingga kami terpaksa duduk di bagian samping. Tepat jam 18.00 pertunjukan dimulai. Perpaduan air mancur, sinar laser dan musik 3 dimensi itu menghasilkan suatu animasi kartun yang memukau saya.

40fountainfolk.png

Pertunjukan spektakuler itupun diakhiri dengan sorotan laser dari Patung Merlion Raksasa. Keren banget eui !

28stsmerlin.png

Setelah pertunjukan berakhir kami bermain-main bersama tangga berjalan. Saya berpikir keras, bagaimana mekanisme tangga berjalan yang bisa bergerak cepat jika dinaiki, namun melambat jika tidak ada orang. Memang sih saya menemukan detektor sinar infra merah dan panel pijakan di tangga itu yang diduga sebagai triger dari gerakan itu. Beberapa gerakan meloncati kedua sensorpun kami lakukan, tapi tetap saja tidak ada efeknya. Gara- gara keasyikan bermain, kami ketinggalan naik Sky Tower yang bisa melihat pemandangan kota Singapore dari ketinggian tertentu.

Pulang dari Pulau Sentosa, kami menghabiskan malam terakhir di esplanade. Lampu-lampu gedung pencakar langit di kota ini menciptakan sebuah pemandangan kota yang sangat indah.

37esplanade.png

Jadi teringat waktu di HK, saya juga menghabiskan malam terakhir di Kowloon Public Pier. Pemandanganya pun sama indahnya. Bedanya kalau di HK jam 10 malam saya diusir oleh petugas karena tempatnya akan ditutup, sedangkan di Sg tidak ada jam malam. Saya dan teman-teman memuaskan diri memandangi tempat ini sampai tengah malam. Dengan MRT terakhir dari Rafles Place kami pulang.

27 Juli 2005
Pagi itu saya bangun jam 5 pagi. Mandi lalu packing barang-barang ke carier. Jam 8 pagi saya dan teman saya sudah dalam perjalanan di MRT menuju Harbour Front. Kami tidak sempat sarapan pagi, jadi kita beli roti saja. Harbour Front menjadi tempat perpisahan saya dengan teman-teman di Sg. Sebelum meninggalkan tanah di negeri ini, saya berharap suatu saat bisa kembali lagi kesini. Amin.

2batam.png

Rupanya saya kelelahan di kapal dan tertidur, saya bangun ketika kapal sudah mendekati pelabuhan Batam. Sebuah perbedaan suasana yang sangat mencolok, mulai melihat lagi sampah yang berserakan, mulai melihat lagi budaya yang semrawut dan tanda-tanda itu membuat saya yakin bahwa saya sudah pulang.

Setelah makan di Bandara Hang Nadin, saya kembali ke Jakarta. Sampai di Bandara Cengkareng jam 15.30, lalu dengan taksi saya langsung menuju stasiun Gambir dan melanjutkan perjalanan dengan Kereta Cirebon Express ke kota kelahiranku. Dua hari di Cirebon untuk melepas lelah bersama orang tua, dan tanggal 30 pagi saya melanjutkan perjalanan 7jam bermotor menuju Yogyakarta, kota perhentian terakhir.

Catatan Perjalanan :

26traffic.png;

Singapura, sebuah negeri kecil dengan masyarakat multietnis dan multibudaya yang hidup saling berdampingan satu sama lain. Sebuah perpaduan budaya Timur dan Barat, tradisional dan modern dalam satu negeri. Negeri ini bukan negeri yang mengaku negeri religius, namun saya menemukan sebuah peradaban disini. Peradaban yang penuh keteraturan karena hukum ditegakkan. Tempat dimana saya bisa berjalan kaki dengan aman dan nyaman. Tempat dimana saya tidak merasakan takut akan sistem diskriminasi ras, agama ataupun kelompok. Semoga akan terus seperti itu, dan saya akan kembali memimpikan negeri saya menjadi seperti itu.

21mtr.png

Beberapa Pelajaran Perjalanan :
- Lain kali saya akan menggunakan jalur legal saja deh, daripada dihantui dengan rasa was-was dan takut.

- Sudah dua kali saya berurusan dengan imigrasi. Hal yang perlu saya pastikan esok hari, untuk menulis alamat tujuan ataupun referensi dengan lengkap. Juga untuk mencukur rambut di atas bibir dan dagu agar tidak dipersepsikan yang tidak-tidak.

- Saya kehilangan beberapa dokumentasi momen yang cukup penting, hanya karena baterai kamera yang cepat habis. Mungkin lain kali harus membawa banyak cadangan baterai.

- Penjagaan keamanan di Sg sangat ketat, kamera metal dan tripod saya selalu terdeteksi mesin detektor logam di mall – mall. Ganti kamera plastik aja kali yah ;)

ps: Buat mba Na.ga. hahaha. Selamat berlibur semoga selamat sampai di Jakarta lagi ya, Pebruari adekmu ke Jakarta ambil oleh-olehnya.

Tags: ,

Mood : Bahagia emoticon

6 Responses :


1. dyna Says:

woiii..dasar dirimu…kirain baik banget mo pajangan tulisan ini…hmm..ujung2nya ngga enak..hahaa..
Bagus euy tulisannya…



2. cindymon Says:

pamaaann, adakah oleh-oleh untuk keponakanmu yang imut ini?! xixixixixixi :D



3. moon Says:

foto-fotonya sangat cantik! Specially urself with the night panoramic view as the background. Quote : "Penjagaan keamanan di Sg sangat ketat, kamera metal dan tripod saya selalu terdeteksi mesin detektor logam di mall – mall. Ganti kamera plastik aja kali yah ;)" –> LOL



4. dLa Says:

iya yah.. seru banget tuh SG..
nampak sangat tertib dan aman..
jadinya ga bakal was-was walow jalan ampe semalem apapun..



5. Topan Berliana Says:

Tempat paling mengesankan di sana menurut saya itu di Snow City (Science Center) dan dinner romantis di pinggir kali (girli) :)). Apa tuh namanya. :D



6. Alia Says:

Helloo.. salam kenal mas..
perkenalkan saya Alia^_^
membaca tulisan mas, sangat fantastis..there’re a lot of experiences!
anyway, ke Singapoer dalam rangka apa?
adakah artikel lain yang mengulas mengenai “food court” atau kuliner di singapura?
bisa dikirim juga lewat email saya



Leave a Reply





XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>



pakupaku

kenzKENZ.
Live in JOGJA [IDX0058] - INDONESIA,
interested in study about human behavior, enjoy some activities like coding, hiking in the mountains, surfing on the net, and listening 'hanging'.

Life Age: 13556 days
Emotional
78.2%
Bioritme Status
Physical
63.1%
Bioritme Status
Intellectual
-97.2%
Bioritme Status





Jangan Asal
Copy Paste, Blog Juga Hasil Karya Cipta.


Bloglines
Feedburner
Get KlipFolio
Get Firefox
Get Opera
Valid XHTML

Catatan Hanging RSS Feed RSS Entries
Catatan Hanging Comments RSS Feed RSS Comments
Catatan Hanging SideNotes RSS Feed RSS SideNotes

27q. 0.088s.
Powered by WordPress
© 2006
All rights reserved.

Kode Etik Blogger Indonesia