pakupaku
Monday, 30.01.2006 22:22

Mengandangkan Sapi Dari Yogya ke Cirebon

Posted on Journey.

Seminggu yang lalu, saya kembali mengadakan perjalanan bermotor dari Yogya ke Cirebon. Ini adalah perjalanan terakhir saya bersama Cougare, motor GL PRO saya.

100_11611.png

Perjalanan kali ini seperti perjalanan mengandangkan sapi karena saya memutuskan untuk mengembalikan motor GL PRO saya yang saat itu dalam keadaan tidak layak jalan ke kota asalnya. Tidak layak jalan karena STNK tidak ada, semua lampu termasuk lampu sein tidak berfungsi, dan yang paling parah adalah kurang maksimalnya rem karena rem yang berfungsi hanya rem belakang yang jika dilakukan pengereman mendadak akan menyebabkan efek selip dan memutar badan motor kesamping.

Keadaan motor yang demikian membuat saya harus berhati-hati menjaga kecepatan laju motor tersebut. Saya tidak mau mengulangi kejadian beberapa bulan lalu yang membuat saya terpelanting di udara karena cougare tak bisa dikendalikan dan akhirnya ‘nyungsep’ ke parit yang cukup dalam.

Cukup bosan juga mengendarai motor dengan kecepatan rata-rata sehingga terkadang saya nekat juga melajukan kecepatan motor ketika melalui jalan sepi. Keuntungan bermotor jarak jauh dengan motor laki-laki dan ber-cc besar adalah tidak mudah lelah dan stabil sehingga saya hanya beristirahat satu kali saja sepanjang jalan Yogya – Cirebon.

Dalam perjalanan kali ini, saya kembali menemui pengalaman yang baru. Lagi-lagi bermula dari Perempatan Buntu Kemrajen. Sudah berulang kali saya melakukan kesalahan di perempatan ini ketika melakukan perjalanan dari Yogya ke Cirebon. Pernah suatu kali saya mengantuk, dan tanpa sadar saya berbelok ke arah kiri. Tahu-tahu saya sudah berada di Cilacap dan terpaksa berbalik lagi ke perempatan ini. Pernah juga saya mengambil arah yang benar, namun karena ragu-ragu saya berbalik lagi untuk melihat papan petunjuk arah di perempatan ini. Menurut saya penempatan papan petunjuk arah di perempatan ini kurang strategis, karena letaknya 300-400 meter dari perempatan sehingga sering luput dari perhatian saya.

perempatan-buntu.png

Hal yang sama terjadi lagi dalam perjalanan kali ini. Saya terprovokasi mengikuti sebuah bis Yogya – Purwokerto sehingga tanpa sadar saya pun berbelok ke kanan. Sepuluh kilo kemudian saya baru sadar bahwa saya tidak pernah melewati jalan tersebut. Oleh karena malas untuk kembali ke perempatan tersebut, saya nekat melanjutkan perjalanan ke arah Purwokerto dengan menyusuri Sungai Serayu. Sesampainya di Purwokerto saya mencari arah ke Ajibarang. Meskipun agak membingungkan jalannya, namun kondisi jalan yang sepi membuat tangan kiri saya tidak terlalu capek memainkan kopling.

Oh ya, saya sempat terkejut ketika menyusuri jalanan alternatif menyusuri sungai Serayu. Seekor ular sawah yang cukup panjang terlindas sebuah truk di depan saya. Motor saya pun tidak sempat menghindar sehingga ikut melindas ular yang kepalanya masih bergeliat-geliat meskipun tubuhnya sudah ‘penyet’. Pengalaman melihat ular dalam perjalanan dari Yogya ke Cirebon bukan sekali ini saja. Saya pernah melihat ular yang besarnya sekaki manusia sedang bergerak di pinggir jalan daerah hutan antara Bumiayu dan Prupuk. Duh! saya kira ular hanya ada di hutan belantara saja, namun ternyata bisa saya temui di jalanan juga.

Kondisi jalan masih sama seperti 6 bulan yang lalu ketika saya mengendarai motor Kharisma 125D dari Cirebon ke Jogja. Hanya saja, keadaan jalan dari Ajibarang sampai Prupuk berlubang-lubang dan semakin parah sekarang. Lubangnya cukup dalam juga, sekitar 20-30 cm yang sangat membahayakan bagi motor. Cukup membuat motor terjungkal jika menerjang lubang dalam kecepatan tinggi.

peta-pp-e-ab-1.png

Beberapa saran saya bagi teman-teman yang mengendarai motor dalam jalanan aspal yang berlubang adalah sebagai berikut :

1. Jangan melakukan gerakan mendadak ketika menghindari lubang. Perhatikan kendaraan di belakang kita. Saya sendiri sudah berulang kali hampir ditabrak dari belakang karena menghindari lubang dengan melakukan manuver mendadak.

2. Dalam kondisi tertentu dimana kita tidak bisa menghindari lubang, sebaiknya pelankan laju kendaraan sepelan yang kita bisa sehingga ketika menerjang lubang tanpa terjungkal.

3. Hindari berada di belakang mobil terlalu dekat, jaga jarak sekitar 10 meter dari mobil di depan kita sehingga kita mempunyai jarak pandang yang cukup untuk melihat lubang dan memikirkan cara menghindarinya.

Untungnya sepanjang perjalanan itu saya tidak kehujanan. Saya takut jika hujan turun maka lubang-lubang tersebut akan tertutup air dan tidak terlihat. Jalur yang biasanya rusak parah yaitu jalur menyusuri sungai dari Prupuk sampai Ketanggungan ternyata sudah diperbaiki. Baru kali ini saya merasakan begitu nikmatnya melaju dengan kencang di jalan ini.

Setelah 7 jam perjalanan dari pukul 8 sampai pukul 16. Saya pun tiba dengan selamat di rumah tanpa kehujanan, syukurlah ceritanya akan menjadi lain jika saya kehujanan dalam perjalanan itu ;)

Tags: ,

Mood :

5 Responses :


1. sa Says:

hh… *narik napas*.. yg namanya lubang itu memang berbahaya ya, ken. *pasang tampang lugu*



2. Uare Says:

Kapan ya bisa ikutan tour…



3. moon Says:

uh uh ada tour..klasiknya… :-D



4. hasto Says:

inyong asli wong tegal dab. kalo pean mau ke yk terus pengin jalan yg tenang dengan pemandangan yang indah mendingan lewat jalan alternatif dari slawi ke pangkah terus ke jatinegara ntar tembus ke pemalang randudongkal habis itu ke purbalingga n ke banjar di sekitar banjar ada jalan tembus yg ke arah kebumen alias jalur wisata ke waduk wadas lintang, nah kalo dah sampe jalur selatan anda tinggal ke arah purworejo



5. kenz Says:

#hasto
okeh… kapan2 aku coba.. trima kasih ya ;)



Leave a Reply





XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>



pakupaku

kenzKENZ.
Live in JOGJA [IDX0058] - INDONESIA,
interested in study about human behavior, enjoy some activities like coding, hiking in the mountains, surfing on the net, and listening 'hanging'.

Life Age: 13556 days
Emotional
78.2%
Bioritme Status
Physical
63.1%
Bioritme Status
Intellectual
-97.2%
Bioritme Status





Jangan Asal
Copy Paste, Blog Juga Hasil Karya Cipta.


Bloglines
Feedburner
Get KlipFolio
Get Firefox
Get Opera
Valid XHTML

Catatan Hanging RSS Feed RSS Entries
Catatan Hanging Comments RSS Feed RSS Comments
Catatan Hanging SideNotes RSS Feed RSS SideNotes

26q. 0.090s.
Powered by WordPress
© 2006
All rights reserved.

Kode Etik Blogger Indonesia