pakupaku
Sunday, 05.02.2006 23:28

Cerita Tentang Pergerakan Mahasiswa

Posted on Social Life.

Malam ini sepulang dari misa sore, saya berdiskusi dengan adek saya tentang pergerakan mahasiswa. Adek saya adalah salah satu petinggi BEM di kampusnya saat ini. Dia bercerita mengenai dinamika dan kondisi gerakan mahasiswa di kampusnya itu. Ada banyak cerita yang muncul, mulai dari cerita yang heroik sampai cerita yang paling konyol.

Cukup banyak cerita yang sama dengan pengalaman saya sewaktu di fisipol tempo dulu. Cerita tentang perjuangan mahasiswa dengan pergerakannya yang ingin membela rakyat kecil dengan menegakkan keadilan di negeri ini. Sungguh merupakan suatu niatan yang mulia dan sudah menjadi tugas mahasiswa sebagai agent of change di negeri yang sedang belajar berdemokrasi ini.

Sejarah telah membuktikan bahwa gerakan mahasiswa merupakan kekuatan politik yang cukup diperhitungkan di negeri ini. Saya pribadi kagum dan salut dengan keberanian teman-teman yang berjuang dalam pergerakan mahasiswa untuk memperjuangkan hak-hak rakyat kecil. Dulu waktu di SMA saya sangat menyukai pelajaran Tata Negara dan juga Wawasan Kebangsaan. Saya tertarik dengan dunia politik dan sering berdiskusi dengan teman atau kakak kelas yang telah menjadi aktivis gerakan. Pertama kali mengenal teknik-teknik melakukan demo pada waktu melaksanakan OSPEK di fakultas fisipol. Hal ini membuat saya semakin bersemangat dan berminat untuk memasuki salah satu gerakan di kampus fisipol pada era 1998. Namun niatan itu saya urungkan ketika saya melihat beberapa fenomena yang tidak sehat dalam dunia gerakan mahasiswa itu sendiri.

Beberapa diantaranya adalah :
- Gerakan mahasiswa identik dengan intimidasi dan kekerasan. Mahasiswa yang katanya anti militerisme ternyata justru memelihara karakter kekerasan militer dengan melakukan intimidasi pada orang-orang yang berbeda pendapat. Pemeliharaan budaya militerisme dan intimidasi bisa dilihat dari OSPEK di tahun 90an waktu itu. Saya dan beberapa teman saya pernah disidang dan diintimidasi karena berbeda pendapat dengan gerakan aliran tertentu.

- Setiap gerakan mahasiswa memiliki visi yang berbeda-beda dan terlalu eksklusif dengan kelompoknya sendiri sehingga saya seringkali melihat satu sama lain malah sibuk berkelahi sendiri. Mereka cenderung membela kepentingan berdasarkan kebenaran menurut kelompoknya sendiri.

- Anarkis. Kebanyakan demonstrasi berakhir dengan kerusuhan dan pengrusakan hasil-hasil pembangunan sehingga negeri ini justru tidak pernah maju dalam pembangunan namun semakin rusak dan kacau.

- Komitmen sesaat dan kemunafikan. Hampir sama dengan apa yang diceritakan dalam film GIE. Beberapa senior aktivis gerakan jaman dahulu ketika sudah menduduki kursi pemerintahan meninggalkan komitmennya karena uang ataupun kesenangan lainnya. Bisa dilihat dari daftar koruptor yang beberapa diantaranya mempunyai track record sebagai mantan aktivis gerakan mahasiswa.

- Beberapa fakta yang pernah beredar di kalangan dosen menyebutkan bahwa sebagian besar mahasiswa yang menjadi aktivis demo dalam suatu gerakan mahasiswa tidak memiliki prestasi akademik di kampusnya. Muncul sebuah persepsi bahwa gerakan mahasiswa hanyalah sebuah tempat pelarian masalah orang-orang yang tak berakal. Ini dikuatkan dengan budaya mengutamakan kekerasan dalam tiap aksi. Lebih memilih menggunakan otak di kaki daripada di kepala ?

Cerita adek saya membuat saya semakin yakin bahwa beberapa fenomena yang tidak sehat diatas masih saja terjadi saat ini. Jika saja gerakan mahasiswa bisa melepaskan diri dari hal – hal yang tersebut di atas, saya yakin semakin banyak orang yang bersimpati dan mendukung pergerakan mahasiswa.

Dalam suatu kesempatan, seorang adek kelas saya menuliskan sebuah semboyan yang berbunyi “Mendidik Rakyat dengan Pergerakan dan Mendidik Penguasa dengan Perlawanan”. Sebuah semboyan yang cukup bagus filosofinya dan juga sering diusung oleh sebuah gerakan mahasiswa tertentu.

Pertanyaan saya adalah :
- Apakah kerusuhan anarkis dalam setiap demo yang marak terjadi akhir-akhir ini merupakan kesalahan tafsir mahasiswa terhadap semboyan ini? Menafsirkan pergerakan dan perlawanan sebagai sebuah aksi radikal yang berujung pada kekerasan?

Jika benar demikian, saya rasa akan terjadi sebuah peperangan yang berkepanjangan antar saudara sebangsa sendiri. Hal ini disebabkan karena demokrasi merupakan pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Sebagian rakyat dididik untuk bergerak dan melawan penguasa yang merupakan bagian rakyat yang lain. Sedangkan sebagian rakyat lain yang duduk sebagai penguasa selalu bersiap untuk menghadapi perlawanan dari rakyat yang lainnya. Maka terjadilah perang dari rakyat, oleh rakyat dan untuk kehancuran rakyat itu sendiri.

Tidakkah seharusnya Rakyat dan Penguasa adalah mitra abadi yang seharusnya saling membangun dan saling melengkapi satu sama lain? Sepertinya tidak untuk di negeri ini. ;)

Tags: , , ,

Mood : BT emoticon

15 Responses :


1. moon Says:

di kampus dulu, yang menyertai pergerakan mahasiswa (kami panggil sebagai perwakilan pelajar)kebanyakannya yang handal juga dalam akademik mereka.
Pemilihan itu berdasarkan prtestasi akademik. Kalau tidak bagus, maka tidak akan dilantik jadi perwakilan pelajar :-)



2. wils Says:

saya sangat sependapat dengan pernyataan anda tentang arah pergerakan mahasiswa yang telah melenceng dari aturan2 yang dahulunya dijadikan asa dari sebuah pergerakan seorang mahasiswa…..
namun dengan tidak adanya aksipertanyaan apa solusi dari semua kejadian tersebut? karena tidak dibutuhkan pernyataan saja namun didukung oleh solusi..



3. Nusantara Says:

Ada Beberapa hal yang sepakat dari anda ketika anda melihat pergerakan mahasiswa saat ini
1. nilai Kekerasan dan intimidasi yang di pelihara
2. Mahasiswa adalah klompok dalam struktur negara yang memiliki pera politik yang signifikan.
tetapi, ada beberapa hal yang mesti kita ingat bahwa dinamika kelompok pergerakan kaum muda (demikian saya menyebutnya) lahir memang dari siapa yang mengandungnya maksudnya adalah Era 1928 (era persatuan nasional atau kebangkitan gerakan) lahir dari siste kolonialism yang akut dan krisis berkepanjangan negara-negara eropa. generasi 1945 lahir dari kronik politik perang dunia. dan 1998 lahir dari kemiskinan massal dan krisis ekonomi. artinya ini adalah sebuah antitesis dari sebuah jaman, cukup di sayang ketika anda mencoba menganalisa sejarah pergerakan mahasiswa itu tetapi anda justru memposisikan berada di luar koridornya. artinya anda tidak menjelaskan secara detail konflik dari pergultan ide kaum muda



4. kenz Says:

@Nusantara
Terima kasih atas masukannya, saya memang tidak detail menjelaskan konflik pergulatan ide kaum muda karena memang tulisan ini hanya sebatas pada pikiran dan pengalaman saya semata dan bukan analisis ilmiah.



5. somebody Says:

klo gitu, kenapa kampus seperti ugm, ui , itb dan bbrp kampus top lainnya pergerakan mahasiswanya justru lbh hidup???

akademik bukanlah segalanya…..
Bill gates, sony sugema dll, contoh dari org2 yg ga berhasil secara akademik, lalu apakah mereka gagal???

Brarti parameternya lah yg berubah….



6. cerita mahasiswa « Tuturbagariang_hot man Says:

[...] Cerita Tentang Pergerakan Mahasiswa Pergerakan Aksi Massa Mahasiswa Indonesia Terjebak dalam Tong Kosong? 10 Alasan Mengapa Ospek Harus Dihapuskan Dari Sistem Pendidikan di Indonesia GMC Health Center Gempa Bumi Jogja : Bencana Moralita [...]



7. YoGie Says:

Hai Bung ……………………
Bisa 9′ mikir dulu sblm Nulis, Negri akan mnjd Negri KOruptor kalau tidak ada mahasiswa2 kritis. cOBA BAYANGKAN iNDONESIA INI HANYA DI ISI Oleh mahasiswa2 banci yang takut demo………
Ketika menjadi mahasiswa, y lakukanlah sesuatu yang telah mnjadi kodrat sebagai mahasiswa. Bukan sebagai mahasiswa Cupu, Culun, Pengecut, banci. Pasti para koruptor gembira membaca tulisan saudara dan bukan tidak mungkin saudara akan diberi Reward



8. Kenz Says:

@YoGie
kasihan banget kamu Gie :D
bayanganmu cuma BANCI melulu, ada apa kamu dengan banci?
buka pikiranmu,
saya gak pernah melarang mahasiswa berpikir kritis :D

tapi demo bukan satu-satunya cara untuk menunjukkan kekritisan mahasiswa.

lagi-lagi komentar di atas cuma membuktikan begitu dangkalnya, teman-teman yang pro demo.
dalam pikirannya cuma takut dibilang pengecut dan banci,



9. sayacintabangsasaya Says:

terlepas dari tulisan anda,ada beberapa hal yang mungkin ingin saya komentari. melakukan demo dan berbagai tindakan kritis terhadap kebijakan pemerintah memang sudah menjadi bagian yang mendarah daging dari para mahasiswa. akan tetapi memang perjuangan itu tidak harus dengan selalu mengkritisi pemerintah.banyak para mahasiswa di Indonesia terlalu “sok tahu dan sok mengerti”.daripada melakukan hal-hal yang tidak berguna dan banyak menghabiskan waktu,lebih bijaksana kalau kita sama-sama sesama mahasiswa berkaca dengan diri kita terlebih dahulu. pantaskah kita perbaiki pemerintahan kalau kita saja belum mampu perbaiki diri kita masing-masing.ingat pepatah yang mengatakan kalau ingin perbaiki semua hal yang ingin kau perbaiki,langkah awal adalah perbaiki diri kita terlebih dahulu.
no offense.!



10. dHede LISMI-MU Says:

waduh abang,,,,, parah banget struktur berfikirmu…. klo ga ada mahasiswa kritis revolusioner, bangsa n negeri ini akan hancur coz ga ada yang ngontrol manusia-manusia yang lagi asik di senayan n istana. jadi banyak baca buku yang bener n kudu pertajam analisismu.. coz tunpul banget mengkaji relitas sosial negeri koruptor ini. tapi ga pa_pa, hidup ini butuh kontradiksi, kayak loe.. moga aja ngga nyasar yaCk…



11. Kenz Says:

@dHede LISMI-MU: seberapa parah struktur berpikir saya? bagaimana kamu mengukur tingkat keparahannya? apakah saya melarang mahasiswa untuk revolusioner dalam tulisan ini?

setumpul apa? dan nyasar kemana?
mengkaji realitas sosial apa? apakah Anda mahasiswa revolusioner yang kritis yang memiliki struktur pikiran yang hebat? perubahan apa yang sudah Anda ciptakan di Indonesia?



12. Piymen Makassar Says:

salam perjuangan….

gagasan kanda soal pergerakan sangat idialis bagi mekanisme pergerakan kedepannya…… namun sangat disayangkan, pergerakan yg ada dizaman kanda sangat berbeda dgn yg ada skrng… sy kuliah dikampus hijau umi makassar, salah satu mahasiswa berideologi bangkit dan bergerak, namun badai moderenisasi tlh menggilas teriakan kami…. dan berubah menjadi kampus kalem…. yaa… biarlah sy jg kan dah mau selesai……….!!!!! ikut arus aja dech………!!!

tak ada lagi agen perubah yg ada agen berubah……..!!!

hormatQ…..
Piymen Makassar
Universitas Muslim Indonesia



13. rufadi Says:

kalau menerut ku sie,……….
demo dengan kretifitas (atraksi seni), malah belum/tidak mndapat perhatian dari kalangan sama sekali,…… mungkin dengan adanya “chaos” antara pihak pendemo “mahasiswa” dengan “aparat keamanan” akan membuat media melirik untuk mempublikasikan sehingga mendapat perhatian yang besar,……….. namun apa harus dengan cara “kotor” demikian,………. untuk bukti nyata terhadap pengabdian masyarakat mending membuat sebuah organisasi LSM “merakyat” bentukan sendiri dengan kontribusi dari teman2 mahasiswanya dari pada harus berteriak keras2, berpanas2 ria malah ada benturan dengan aparat keamanan (yang akan mengamankan masyarakat sekitar),………………….. membantu dengan keahlian kita masing2,……. sebagai contoh, mahasiswa dibidang ekonomi turun kemasyarakat menyadarkan untuk program koperasi,……… bidang pendidikan (guru) memberikan les gratis kepada anak2 SD/SMP/SMA yg lemah perekonomian orang tuanya,……. mahasiswa di bidang seni memberikan pelatihan berupa kesenian (lukis/tari/suara) kepada anak2 sebuah desa,……….(dll) itu malah lebih bermanfaat lebih di hargai dari pergerakan kita, serta masyarakat akan lebih hormat kepada mahasiswa-mahasiswa tersebut.

salam kenal
http://rufadi.blogspot.com/



14. asep Says:

saya ingin tanya,menurut anda apakah organisasi extra kampus itu penting??
karena di kampus saya hal ini malah menjadi ajang kaderisasi dan perebutan mahasiswa..



15. fahrani Says:

mahasiswa sebuah status keberadaan kecil bagian mayarakat yg berkesempatn berstudi di perguruan tinggi, menurut saya mahasiswa harus kembali kepada tujuan utama sbg mahasiswa yaitu menjalankan tri darma perguruan tinggi,, yaitu studi nya sukses, pengabdian bisa berbuat utk kepentingan masyarakat bangsa ini, dan peneltian yg berguna utk kemajuan negeri ini… mengenai aksi demo saya rasa bentuk dari perhatian mahasiswa kpd bangsa ini krn melihat masyarakat yg termarjinalkan..akan tetapi aksi tidak hanya dalam bentuk demo..bisa saja domo melakukan dialok dan diskusi dgn ygberkepentingan dari tindak lanjut aksi…. kalau saya sendiri sbgaimahaiswa ya fokos pada tujuan mahasiswa.



Leave a Reply





XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>



pakupaku

kenzKENZ.
Live in JOGJA [IDX0058] - INDONESIA,
interested in study about human behavior, enjoy some activities like coding, hiking in the mountains, surfing on the net, and listening 'hanging'.

Life Age: 13558 days
Emotional
97.5%
Bioritme Status
Physical
13.6%
Bioritme Status
Intellectual
-81.5%
Bioritme Status





Jangan Asal
Copy Paste, Blog Juga Hasil Karya Cipta.


Bloglines
Feedburner
Get KlipFolio
Get Firefox
Get Opera
Valid XHTML

Catatan Hanging RSS Feed RSS Entries
Catatan Hanging Comments RSS Feed RSS Comments
Catatan Hanging SideNotes RSS Feed RSS SideNotes

27q. 0.105s.
Powered by WordPress
© 2006
All rights reserved.

Kode Etik Blogger Indonesia