![]() ![]()
Wednesday, 09.12.2009 15:13
Hibiscus TujuhKini saya sadar.. cinta manusia itu hanyalah bentuk egoisme manusia yang tersamar, penuh kecemburuan, ingin menguasai, memiliki, merebut, menghancurkan dan mematikan. Nafas manusia adalah uang, uang, uang, popularitas, kekuasaan, pujian dan kenikmatan sesaat. Tempo hari, Doa saya terucap, ketika separuh jiwa saya belum terbangun dari tidur panjangnya di ruang ini. “Tuhan yang sangat baik, beri dia kehidupan, karena saya mencintainya dan saya ingin menjaganya sepanjang hidup saya.”
Cinta Tuhan itu tersembunyi dalam keheningan ruang, dimana hanya ada suara nafas, dan sesekali kejutan di jari-jarinya. Ada kehidupan dari kegelisahan jiwa, yang cukup lama menantikan ia kembali dari tidur-tidur panjangnya setelah operasi itu. “Tuhan, terima kasih… terima kasih… terima kasih… ” Kata-kata yang terus terbisik dalam doa detak jantung saya untuk kehidupan yang Tuhan berikan, setiap nafas yang begitu sempurna, nafas-nafas cinta sang pemberi hidup yang dia hembuskan. Tak bosan saya memandangnya, memandang cinta Tuhan dalam kejut gerak jari-jari itu dan dalam wajah ceria yang akan kembali terlihat.
……………. Waktu berlalu dan hidup kembali berjalan meninggalkan jauh saat-saat hening di ruang itu. Pelarian demi pelarian dalam kebisingan hidup yang dipenuhi oleh kesenangan nafsu sesaat manusia. Kini separuh jiwa saya sudah hilang, terebut oleh egoisme dan ketamakan saya sendiri, serta ketamakan para lelaki lain yang ingin memilikinya. Penantian yang sama dalam ruang berbeda, kegelisahan jiwa yang sama dan tak bisa disembunyikan. Mengapa dan kenapa? Hanya Tuhan yang tahu rancangan misteri keselamatan bagi manusia. Saya hanya bisa memungut setiap remah-remah yang dijatuhkannya, remah-remah cinta yang cukup berarti buat saya meski menyakitkan dan memalukan. Hibiscus Tujuh, dan saya tidak menemukan siapapun lagi disana, hanya Tuhan, yang tetap disana, dalam keheningan ruang yang sama seperti dulu, yang kini menemani nafas-nafas hidup saya. Mendengarkan Ia bersabda tentang cinta, cinta yang lembut, tersembunyi dalam tahta hati yang Kudus, dalam penderitaan ataupun dalam sukacita, dan tak lekang oleh waktu. “Tuhan yang sangat baik, tetaplah bersama saya di ruang ini, ajarkan dan tunjukkan saya cinta, cinta yang tersembunyi, yang tak terlihat, yang tak mengharap balasan, yang menyembuhkan luka, yang ajaib dan tak lekang oleh waktu. Saya akan menjaga cintaMu sepanjang hidup saya, sepanjang nafas ini masih bisa mendesiskan kemuliaan Nama Mu yang Agung.”
Mood :
Leave a Reply
![]() ![]() | ![]() ![]() Oktavianus Ken Manungkarjono.Live in JOGJA [IDX0058] - INDONESIA, interested in study about human behavior, enjoy some activities like coding, hiking in the mountains, surfing on the net, and listening 'hanging'.
Categories Anything (14)
Blogging (4) Bureaucracy (3) Collection (5) Computer Health (9) Ergonomics (15) Faith (22) Human Health (6) Intermezzo (7) Internet (20) Journey (23) Linux (5) Poetry (1) Psychoblogology (24) Psychology (19) Social Life (34) Waktu Hujan (22) Jangan Asal Copy Paste, Blog Juga Hasil Karya Cipta. Bloglines Feedburner Get KlipFolio Get Firefox Get Opera Valid XHTML 29q. 0.346s. Powered by WordPress © 2006 All rights reserved. | ||||||||||