pakupaku
Wednesday, 12.04.2006 2:38

Fabianus Tibo Cs. : Keadilan yang Tak Berkeadilan?

Posted on Social Life.

Saya mulai tertarik dengan kasus Tibo Cs, ketika membaca berita detik.com yang berjudul Paus Benedictus XVI Beri Hadiah untuk Terpidana Mati Poso beberapa waktu yang lalu.

Uskup Yosef juga menyampaikan titipan salib dan rosario yang dikirimkan khusus oleh Paus dari Vatikan. Kepada para ketiga terpidana mati yang tengah menunggu eksekusi itu, Paus menitipkan pesan agar diberi ketabahan hati atas cobaan atau kemelut kehidupan yang tengah mereka hadapi.

“Bapa Suci Paus Benedictus XVI mengutus saya mengunjungi ketiganya untuk menunjukkan perhatian kegembalaan dan kasih kebapaan beliau kepada mereka,” kata Yosef.

Sejauh ini, sangat jarang saya mendengar seorang Paus memberikan suatu penguatan dan berkat untuk sekelompok terpidana mati jika hal itu bukan merupakan suatu hal yang sangat istimewa. Beliau tentunya akan berhati-hati dan juga tidak akan mendukung sekelompok orang yang jelas-jelas bersalah membunuh orang. Dalam hal ini kemungkinan Paus melihat ketiganya adalah korban dari ketidakadilan sehingga Beliau memberikan perhatian yang begitu besar.

Ketiga terpidana mati itu memang tinggal menunggu hari eksekusi yang waktunya masih dirahasiakan. Apalagi setelah Presiden menolak memberikan grasi untuk kedua kalinya.

Meski beberapa waktu sebelumnya, para pemuka agama juga telah menyampaikan surat kepada Presiden agar menunda eksekusi mati para terpidana.

Kepada Yth,
Presiden Republik Indonesia
Jl. Medan Merdeka Utara
Jakarta.

Perihal: Permohonan Penundaan Eksekusi Fabianus Tibo Cs.

Dengan hormat,

Bersama ini kami para pemuka agama dengan penuh kesadaran mengusulkan agar eksekusi terhadap diri Fabianus Tibo Cs dapat ditunda dengan pertimbangan::

1. Alasan kemanusiaan mengingat ketiga terpidana mati tersebut masih mempunyai hak untuk menunggu masa 2 tahun mengajukan grasi kembali sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

2. Untuk menjaga kerukunan di wilayah Poso dan sekitarnya agar proses rekonsiliasi dapat berjalan lancar dan tidak dirusak oleh dendam yang saat ini masih dirasakan oleh para korban kekerasan tersebut.

3. Keputusan pemerintah yang terkesan tergesa-gesa akan menimbulkan pertanyaan yang besar di tengah rendahnya rasa saling percaya di tengah masyarakat

4. Demi terciptanya suasana yang adil dan damai di Poso dan Palu, ketiga terpidana mati tersebut sebaiknya dipindahkan ke tempat lain.

Demikian permohonan ini kami sampaikan. Besar harapan kami bahwa permohonan ini dikabulkan demi kelangsungan dan keutuhan Republik kita tercinta Indonesia.

Hormat kami,

K.H. Abdurahman Wahid
Kardinal Julius Darmaatmadja
Pendeta Andreas A. Yewangoe
Bhikkhu Dharmavimala
Ws. Budi S. Tanuwibowo

Pro Kontra tentang kasus ini pun mulai merebak dan memunculkan aksi-aksi damai sekelompok orang. Meski mereka tahu aksi damai tanpa massa yang besar hanyalah sebuah angin lalu bagi pemerintah.

Mereka yang melakukan aksi damai menuntut eksekusi Tibo cs. ditunda dengan alasan kasus ini belum selesai dan terpidana kemungkinan memiliki informasi lain untuk memecahkan berbagai kasus di Poso yang begitu kompleks.

Dalam suatu pemberitaan di televisi, saya tertarik dengan apa yang dikatakan seorang uskup yang kurang lebih mengatakan bahwa lebih baik membebaskan seorang penjahat daripada mengeksekusi mati seorang yang ternyata tidak bersalah.

Mengikuti berita demi berita tentang kasus Tibo cs. membuat saya juga semakin bertanya : Mengapa pemerintah ingin segera mengeksekusi ketiga terpidana padahal kasus Poso belum tuntas benar? Belum tuntas dalam hal ini karena sampai kemarin, masih saja ada berita teror di Poso dan kasus-kasus lainnya yang tak pernah terungkap secara jelas.

Benarkah ketiga terpidana tersebut hanyalah korban ketidakadilan karena mereka orang sederhana dan buta huruf? Atau memang benar ketiganya adalah pemimpin dan aktor utama sebenarnya kasus Poso.

Menurut pendapat saya pribadi, Konflik di Poso tahun 2000 adalah sebuah konflik horisontal yang melibatkan dua kelompok besar yang dulu terkenal dengan sebutan kelompok merah dan kelompok putih.

Penyebab konflik besar ini juga masih abu-abu dan cenderung tertutup rapat. Banyak pengamat politik menduga ada permainan aktor intelektual (pihak yang berkepentingan) dalam konflik ini sehingga menjadi semakin sangat kompleks dan terus terpelihara sampai sekarang meskipun sudah membaik sejak Deklarasi Malino II.

Keadilan yang saya pertanyakan, jika ada dua kelompok orang berkelahi dan saling membunuh. Tentu keduanya bersalah, dan harus dihukum. Satu pihak sudah siap dieksekusi, sedangkan pihak yang lain sampai sekarang tidak jelas. Dimanakah pelaku bom-bom dan teror-teror poso? Dimanakah pelaku pemenggalan kepala tiga siswi? Mungkinkah satu kelompok membunuh dan meneror kelompoknya sendiri dengan sadis? Jika ada tentunya orang-orang ini adalah orang-orang ‘pandai’ yang tak punya nurani, bukan orang yang sederhana dan tak berpendidikan.

Mungkin pepatah tua yang disebutkan oleh seorang pemerhati masalah sosial dalam tulisannya ini sangat tepat untuk menutup keprihatinan saya ini :

Dimana ada keadilan,
di situ bersemi keamanan dan kemakmuran.
Sebaliknya dimana ada ketidakadilan,
maka disitulah tumbuh subur benih kehancuran.

Semoga saja, pemerintah adil dalam menyelesaikan segala konflik horisontal yang terjadi di poso, ataupun di daerah-daerah lainnya. Semoga.

Tags: , ,

Mood : Kecewa emoticon

27 Responses :


1. Charly Silaban Says:

Great man !!
Lama tak mampir di dera kesibukan akhirnya ku menjejakkan mata di blog mu ini melalui Detik .
Terus berkarya ya… :) Salam untuk Jogja !!



2. nananias Says:

jadi inget duluuuu pernah nonton pelem lupa judulnya apa tapi quotenya nyantol di kepala kayak gini *ngga persis sama sih*

IT IS MUCH BETTER TO FREE 10 GUILTY MEN THAN TO PUT 1 INNOCENT MAN BEHIND BARS



3. yoan Says:

wah….sangkin lamanya tidak aptudate ma tepe n koran…aku jadi ga tahu berita terbaru…yang tahunya klo tadi pagi ada demo buruh dan bikin macet sampai 3 jam dari rumah-kampus :(



4. Hedi Says:

kambing hitam bisa terjadi sama siapa aja mas…tinggal keprihatinan yang akhirnya muncul :(



5. crushdew Says:

just bout the bullshit of my nation.



6. thuns Says:

pertama…, negara ini emang jauh dari keadilan!
kedua…, apapun itu si tibo, mo korban mo apalah… yang jelas dia udah ngebunuh banyak nyawa manusia di tangannya sendiri! so… hukuman yang pantas yah kematianlah! ga ada tawar menawar! itu juga demi kemanusiaan kok :D



7. johan Says:

tapi sayang …. mestinya agamawan katolik (terutama yang hirarkis – Paus, Uskup) jangan cuma berkoar ketika korbannya dari kalangan sendiri. Yg bagus itu seperti Rm. Magnis … beliau memang menentang hukuman mati .. termasuk atas terpidana bom bali ….



8. kenz Says:

Hmm… Saya rasa kita juga seharusnya bisa melihat konteks secara lebih mendalam, sudah menjadi "Tugas Hirarkis"sebagai Gembala Gereja untuk memperhatikan umatnya . Jadi wajar kalau mereka sampai turun tangan dalam hal ini, tidakkah ini juga terjadi dengan pemuka agama lain terhadap umatnya?

Dan kalau kita mengikuti pemberitaan Gereja Katolik, sering diberitakan bagaimana Paus dan rohaniawan dalam hirarki menentang hukuman mati, termasuk aborsi dalam berbagai kesempatan. Itu adalah prinsip yang juga diikuti oleh semua pengikut Katolik, termasuk Rm. Magnis tentunya ;)



9. Rofino Kant Says:

Apa ini yang namanya malapetaka hukum ? Ya….seperti Gusdur bilang. Hukum bukan satu-satunya jalan cari kebenaran. Alasan hukum bisa di cari.
Kitapun brdoa agar tidak terjadilagi malapetaka hukum seperti ini .



10. jos Says:

Adil ? ? ? betapa susahnya menemukan keadilan di negra tercinta ini. Jika boleh membuat sebuah perbandingan, dapat dikatakan bahwa akan lebih sulit untuk menemukan keadilan di INA dari pada menemukan jarum di tumpukan jerami



11. Delka Says:

kenapa laskar jihad tidak dihukum? keadilan bagi mayoritas mungkin iya, karena minoritas memang paling gampang dijadikan kambing hitam seperti kasus Poso ataupun pembunuhan Munir. Sekali jalan dua tiga pulau terlampau, benar… sekali jalan, isu politik, kepentingan satu kelompok dan juga tekanan terhadap minoritas tercapai jua.



12. maey Says:

hmm….setuju…..
tapi skarang, let we see the bright sight…Tuhan punya jalan untuk menegakkan keadilan untuk umatnya even itu lewat keputusan ngga adil dari petinggi2 terhormat negara kita…..
Yang jelas ngga perlu dendam ketika keputusan tidak adil kaya gini terjadi…cuz dendam ga akan pnah slese, yg ada cm ngeruncingin masalah..ngga perlu berprinsip MATA GANTI MATA..GIGI GANTI GIGI..Apa yg mreka buat untuk Tibo Cs ngga usah dibales dgn hal serupa…apalagi smpe rusuh n saling ngebunuh lagi..
Justru dari hal seperti ini KASIH yang jadi prinsip utama kita terlihat…:-) GBU all..



13. SAMELIA Says:

Percayalah bahwa punya rencana yang terbaik bagi umat_ya…yang datangnya selalu tepat pada saatnya………..orang yang meninggikan dirinya akan direndahkan_Nya dan orang yang rendah diri serta yang tidak bersalah akan ditinggikan oleh Bapa dalam kerajaan surga.amien n gbu all



14. Silalahi Says:

Jika memang Tibo Cs tidak bersalah dalam kasus itu…maka sebenarnya Tibo Cs adalah orang-orang yang paling berbahagia di dunia ini, sesungguhnya orang-orang seperti itu adalah warga kerajaan Allah. Gbu



15. Ario Says:

Memang kasus Tibo adalah salah satu contoh diskriminasi agama di Indonesia. Kalo terpidana bom Bali, masih hidup, menunggu hukuman mati, kenapa Tibo cs. langsung dihukum mati? Lagian kasus Poso masih belum tuntas?

Salam kenal mas, saya Ario lulusan UGM angkatan 2001.



16. Anonymous Says:

Iyah Betul ARIO! Memang Seperti itu keadaannya dan apa adanya yang harus kita terima sebagai minoritas. BOM bali yang jelas2 salah masi ajah tuh hidup sampai detik ini. itu pun mau mati teror dimana2. sedangkan kalo mereka mau bom pun yang mati orang indonesia juga. yah kecuali kalo mereka diskriminasi deh. itu emang udah cacat dari merekanya aja dan rasa iri antar sesama..

indonesia.. indonesia.. memang sangat di sayangkan!



17. Hamba Allah Says:

Teman2 semua, jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan bahwa agama Islam di indonesia itu Anarkis dan Teroris.
coba anda teliti kembali mayoritas penduduk di Poso beragama apa? para pejabat2 daerahnya beragama apa?

belum pernah kita dengar ada perang antar agama di Aceh, padang atau kota2 berbasis Islam lainnya. karena apa? karena mayoritas adalah muslim, yang di ajarkan untuk saling menghargai.

kalau sekiranya agama Islam itu anarkis dan tidak adil, apakah sulit bagi kami menghancurkan umat beragama lainnya di Indonesia ini ? karena kami tidak seperti itu maka masih bisa umat yg lain hidup bersama.

Wassalam



18. Manusia Biasa Says:

>>Hamba Allah
Bicara apa sih Anda? Kenapa poso hancur? Bukannya karena Laskar Jihad didatangkan dari Jawa dan menghancurkan itu semua!!!!

Orang minoritas juga bisa menghancurkan kalian kalo mau, bayangkan saja korbannya tentu lebih banyak buat orang mayoritas, target sasaran juga lebih banyak. Sayangnya orang minoritas punya ajaran agama yang damai, jadi itu tidak terjadi, bahkan membunuh atas Tuhanpun dilarang.

Periksa itu alkitab Anda! sampe-sampe Amrozi Cs yang telah membunuh 200 orang dianggap sebagai PAHLAWAN ISLAM!!
Setahu saya hanya agama Anda yang memperbolehkan orang saling bunuh,
ckckckckc….. hanya AYAT SETAN yang memperbolehkan manusia saling membunuh demi Tuhan (Tuhan siapa sih yang menyediakan bidadari bagi pembunuh). Setan kali ya?

Saya bukan kristen atau nasrani, tapi saya jengah dengan kelakuan agama mayoritas di negeri ini. Sok suci pake nama Tuhan tapi kelakuan kayak binatang…. !!!! Bunuh Orang sambil nyebut nama Tuhan.

Camkan ini ya, dunia akan melihat dan menilai seperti apa ajaran yang disebarkan dengan kekerasan. Kehancuranmu bukan karena musuh-musuhmu, tetapi oleh kelompok-kelompok kalian sendiri. Lihat saja! Siapa yang menebar angin akan menuai badai, begitulah hukum Alam.



19. edHoRey Says:

Sudah tiga kali saya mencoba menulis komentar untuk postingan ini, tapi saya hapus lagi, saya hapus lagi…
Saya sempat tidak ingin berkomentar, karena berbagai pertimbangan!

Tapi untuk memuaskan perasaan saya yang sangat prihatin dengan keadaan negara kita yang tercinta ini, saya memilih untuk menuliskan sesuatu di bawah ini :

“Indonesia, Bhineka Tunggal Ika”
“Indonesia, dari Sabang sampai Marauke”
“Indonesia, Ketuhananan Yang Maha Esa”
“Indonesia, Merah darahku, Putih tulangku”

—INDONESIA, BERPIKIRLAH—



20. gege Says:

ini mah teori Jeremy Bantham “kebahagian terbesar bagi banyak orang”. memang, kaum minoritaslah yang selalu terpinggirkan :-(
Tapi ingat, agama kita selalu mengajarkan tentang KASIH,.
TUHAN MAHA ADIL….. GBU All



21. uri avnery Says:

Nasib pengikut Zionis-Neokonservatif pendukung Israel dan USA akan sama dengan Tibo cs. So bagi siapa saja yg masih mendukung existensi “negara-negara setan” tsb, tempatnya bukan di Indonesia. Tapi bagi siapa saja dan beragama apa saja, sepanjang dia anti-Zionis, maka dia berhak dan pantas tinggal di Indonesia.



22. uri avnery Says:

Bagi anda yang merasa sebagai “kaum minoritas”, jika anda memang tidak merasa nyaman tinggal di Indonesia, anda bisa pindah ke negara yang “sesuai dengan ke-minoritasan” anda. Sebagaimana perlakuan “negara-negara setan” tersebut pada “keminoritasan umat Islam” di negaranya. Impas kan?



23. uri avnery Says:

Oya satu lagi dan harap diperhatikan, “anti-Zionis” bukanlah “anti-Yahudi”, karena sebenarnya Zionisme dan Judaisme itu bertentangan. Banyak kalangan Yahudi sendiri yang sangat menentang Zionisme. Salah satunya adalah Neturei Karta (www.nkusa.org). So sekali lagi, bagi anda pengikut Zionis, beragama apapun anda (bahkan Islam sekalipun), silakan angkat kaki dari bumi Indonesia. Termasuk Tibo dkk.



24. wefriend Says:

minor di indo tdk berarti harus pindah dr indo!krna menurut riset juga mmbuktikan bahwa pnduduk indo itu g nyampe10% dr pnduduk dunia!dan pnduduk dunia+65% itu bagian dr kristen!jg kita ngomong jgn asal ngawur gitu aj!klo qt usir minor itu dr indo,qt bisa diusir dr dunia sob!jd qt damai aj!
qt smua dr berbagai agama dan kepercayaan brharap utk suatu SURGA yg sama…



25. fiorentina Says:

uri avnery Says:

Bagi anda yang merasa sebagai “kaum minoritas”, jika anda memang tidak merasa nyaman tinggal di Indonesia, anda bisa pindah ke negara yang “sesuai dengan ke-minoritasan” anda. Sebagaimana perlakuan “negara-negara setan” tersebut pada “keminoritasan umat Islam” di negaranya. Impas kan?
^
^

ini adalah tulisan terburuk yg pernah saya baca…….ckckck
anda pikir indonesia negara bapak moyang anda smpe bisa maen usir org seenaknya….mbok ya mikir sebelum berargumen,cape d



26. Sekar Says:

Itulah kenyataannya….
saya sendiri benar-benar merasa terluka,,,,,,
membaca kasus ini lagi seperti membuka sisi gelap bangsa indonesia……
nasi telah menjadi bubur,,,, tibo cs sudah berada dalam damai kasih Tuhan, , ,
tinggal pelajaran berharga yang perlu diambil oleh kita semua generasi penerus…….



27. Princess Peace Says:

sampai detik ini pun saya masih merasa JANGGAL dengan keputusan ‘Hukuman Mati’ bagi Tibo cs yg saya nilai sangat tergesa-gesa, tapi meskipun demikian…,saya PERCAYA bahwa TUHAN adalah ALLAH yg adil…, benar di dunia ini mereka tidak mendapat keadilan yg semestinya…tapi Saat ini saya yakin mereka sudah berada di dalam Pangkuan Bapa di Surga…. Amin

GOD BLESS INDONESIA… GOD BLESS TIBO CS



Leave a Reply





XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>



pakupaku

kenzKENZ.
Live in JOGJA [IDX0058] - INDONESIA,
interested in study about human behavior, enjoy some activities like coding, hiking in the mountains, surfing on the net, and listening 'hanging'.

Life Age: 13558 days
Emotional
97.5%
Bioritme Status
Physical
13.6%
Bioritme Status
Intellectual
-81.5%
Bioritme Status





Jangan Asal
Copy Paste, Blog Juga Hasil Karya Cipta.


Bloglines
Feedburner
Get KlipFolio
Get Firefox
Get Opera
Valid XHTML

Catatan Hanging RSS Feed RSS Entries
Catatan Hanging Comments RSS Feed RSS Comments
Catatan Hanging SideNotes RSS Feed RSS SideNotes

27q. 0.117s.
Powered by WordPress
© 2006
All rights reserved.

Kode Etik Blogger Indonesia