pakupaku
Tuesday, 23.08.2005 13:45

Analisa Film : Good Will Hunting

Posted on Psychology.

Matt Damon yang berperan sebagai Will Hunting, adalah seorang anak muda yang menginjak usia 20 tahun. Dalam kesehariannya Willl tampil sebagai seorang yatim piatu yang miskin dan sederhana. Ia bekerja sebagai cleaning service di sebuah universitas ternama, MIT (Massacahussets Institute of Technology). Oleh karena kemiskinannya itu ia tidak pernah merasakan bangku kuliah, namun demikian Will adalah seorang yang jenius nan cerdas. Hanya dengan membaca buku saja, kemampuannya sebanding dengan orang – orang yang mengenyam pendidikan di universitas tempatnya bekerja. Bahkan Will mampu memecahkan teka – teki teori matematika yang disayembarakan oleh profesor Lambeau di universitas tersebut.

Dalam kehidupannya, Will memiliki tiga orang sahabat yang biasa menemaninya kemana-mana. Salah satunya adalah Chuckie, yang sudah dianggap sebagai saudaranya sendiri.

Will memiliki kepribadian yang introvert, agresif, sukar percaya pada orang lain dan antisosial. Oleh karena sifatnya itu beberapa kali Will harus berurusan dengan polisi, sampai suatu ketika ia terlibat dalam perkelahian dengan anak jalanan sehingga ia harus menjalani hukuman penjara. Profesor Lambeau yang tertarik dengan kejeniusan Will akhirnya menjamin bebas Will dari penjara dengan syarat : Will mau bekerja untuknya dan menjalani terapi psikologis. Syarat tersebut diterima oleh Will, dan mulai saat itu selain harus bekerja bersama profesor Lambeau, Will juga harus menjalani terapi.


Will yang bandel dan cerdas mampu mempermainkan beberapa ahli terapi yang menanganinya. Satu persatu ahli terapi dari berbagai aliran itu pun menyerah dan mengundurkan diri sebagai ahli terapi Will. Sampai akhirnya profesor Lambeau meminta tolong pada temannya yang juga psikolog yaitu Sean McGuire. Sama seperti ahli terapi lainnya, Will pun mempermainkan Sean dengan membongkar luka lama Sean sehingga itu membuat suatu masalah baru bagi Sean sendiri. Namun Sean tidak mau menyerah, pertemuan demi pertemuan mereka jalani. Pada awalnya Will melakukan aksi bungkam mulut dan hanya mendengarkan Sean yang bercerita tentang kehidupannya, seakan – akan Sean lah yang menjadi klien dari Will.

Dalam masa konseling tersebut, Will mengalami berbagai pengalaman baru yaitu dalam percintaan dan pencarian pekerjaan. Namun kedua hal itu malah menjadi suatu konflik tersendiri bagi psikis Will yang memang sedang terganggu. Karena keterbukaan dan kehangatan yang diberikan oleh Sean akhirnya kekerasan hati Will pun runtuh, dan Will pun berani membuka dirinya pada Sean seperti layaknya seorang sahabat.

ANALISA :
Dari film tersebut, dapat diketahui simpton – simpton yang ditunjukkan oleh Will, yaitu antara lain :

- Will sangat introvert, tertutup dengan orang lain, tidak mau kemampuan dan masalahnya diketahui oleh orang lain. Ini terlihat ketika Profesor Lambeau menghampiri Will saat Will ketahuan sebagai orang yang memecahkan teka – teki yang disayembarakan. Begitu juga ketika Sean menanyai Will. – Berbicara dan berperilaku kasar, pemberontak dan agresif. Will sering terlibat perkelahian, memcemooh orang dengan kata-kata kasar, bahkan ketika bertengkar dengan pacarnya yaitu Skylar, Sifat agresifitas Will sangat terlihat. – Will tidak suka menuruti aturan hukum yang ada dalam masyarakat. Terbukti dengan deretan daftar kejahatannya yang cukup banyak ketika di pengadilan.

- Senang mempermalukan seseorang dan sangat sombong. Beberapa ahli terapi menjadi korban permainan Will dan juga para pengusaha yang ingin merekrut Will menjadi karyawannya. – Keras kepala dan sukar percaya pada orang lain. Chuckie, sahabat Will, Profesor Lambeau, Sean dan banyak orang di sekitar Will yang sering memberikan saran, namun Will tidak mau melakukan saran itu dan cenderung membantah semua saran yang diberikan oleh orang lain.

Stressor atau kejadian – kejadian yang terlihat dalam film tersebut yang membuat keadaan emosi Will memuncak : – Ketika melihat anak jalanan yang mengejek seorang mahasiswi di jalanan. Will langsung marah dan memukuli gerombolan anak jalanan itu.

- Ketika temannya Chuckie dilecehkan di kafe, Will langsung membelanya dan ganti mencemooh dengan kata – kata kasar dan menantang mahasiswa tersebut untuk berkelahi.

- Ketika Pacar Will, Skylar mengajaknya ke California, tapi Will tidak mau dan justru pecah pertengkaran hebat. – Ketika Profesor Lambeau menyanggah dan menyuruh Will untuk memeriksa kembali teori yang baru dipecahkan. Will langsung menolaknya dan membakar kertas – kertas teori tersebut.

Proses terapi yang dilakukan oleh Sean sebagai seorang psikolog, yaitu :

Awal pertemuan, Sean berusaha untuk berkomunikasi dan membangun hubungan yang baik dengan Will. Namun usahanya ini gagal karena Will mempermainkan Sean dengan kejeniusannya. Sean tetap membangun hubungan baik dengan Will meskipun ditanggapi dengan kasar dan pasif oleh Will. Bahkan Sean pun sempat marah dengan Will dan menekan Will agar mau memahami semua permasalahannya juga bukan malah mengejeknya.

Setelah peristiwa itu Will cenderung diam, dan tutup mulut. Sean tetap bercerita tentang semua permasalahannya secara terbuka kepada Will meskipun ditanggapi dengan pikiran Will yang nakal. Lama kelamaan Will pun merasa dipercaya, apalagi setelah melihat pertengkaran Sean dengan profesor Lambeau, dimana Sean membela mati – matian Will. Walau demikian Sean masih saja sulit untuk mengungkit masa lalu Will, karena Will selalu berkilah dan membalik pertanyaan jika ditanya.

Sean pun menggunakan teknik proyeksi dengan menceritakan suatu masalah yang dialami kliennya yang lain dan dirinya sendiri. Will pun terjebak, ia tidak bisa lagi menahan air mata dan emosinya ketika akar permasalahan dari perilakunya selama ini terbongkar. Ternyata Will mengalami child abuse (kekerasan dan penganiyaan pada masa kecilnya oleh ayahnya) sehingga mengalami trauma dan terbawa pada perilakunya saat dewasa. Will kecil merasa pantas dihukum karena ia memang patut disalahkan. Sean pun mengejar Will dengan mengulang – ulang akar permasalahan Will yaitu terus mengatakan “Itu bukan salahmu …. Itu bukan salahmu… Itu bukan salahmu….” Sampai Will pun tak kuasa menahan air matanya dan jatuh ke dalam pelukan Sean. Sejak itulah akar permasalahan yang telah lama direpres akhirnya dibawa ke permukaan sadar sehingga Will pun mulai sadar dan menerima kenyataan itu.

Dengan begitu akhirnya Will pun menjadi dirinya sendiri yang bebas dari rasa penyesalan yang menghantuinya selama ini. Perilaku Will pun menjadi normal dan lebih berkepribadian daripada sebelumnya. Will pun dapat dengan bebas untuk memutuskan apa yang sebenarnya dia inginkan.

Jika melihat alur proses terapi yang dilakukan oleh Sean terhadap Will, maka dapat diketahui bahwa Sean menggunakan pendekatan Humanistik. Dalam pendekatan yang berorientasi pada person centered ini, manusia dipandang sebagai mahkluk yang dilahirkan dengan pembawaan dasar yang baik, konstruktif, rasional, sosial, berkeinginan maju, realistis, memiliki kapasitas menilai diri dan mampu membawa diri untuk bertingkah laku sehat dan seimbang serta cenderung melakukan aktualisasi diri. Dengan demikian setiap orang dipandang mampu memecahkan masalahnya sendiri.

Dalam hal ini konselor atau terapis hanyalah sebagai fasilitator yang membantu klien dalam memecahkan persoalan yang dihadapinya. Oleh karena itu konselor atau terapis harus memiliki sifat dan sikap seperti : ketulusan untuk menolong, terbuka atas perasaannya sendiri, empati, menghargai tanpa syarat, menerima penuh diri klien, realness dan otentik (tanpa kepura-puraaan).

Sikap – sikap tersebut akan membantu menciptakan suasana yang kondusif bagi klien untuk menemukan akar permasalahannya dalam suatu hubungan yang tulus dan saling percaya satu sama lain, bukannya seperti hubungan dokter dengan pasien tetapi lebih pada hubungan antar sahabat.

Pendekatan humanis ini bersifat non directive dan sangat sederhana, konselor harus mampu menjadi seorang pendengar yang baik dan berusaha untuk memahami klien dalam sudut pandang klien itu sendiri. Pada saatnya nanti konselor dapat membantu untuk menjernihkan dan merefleksikan perasaan emosional klien. Namun demikian dihindari pemberian suatu nasehat ataupun interpretasi. Konselor dan terapis harus percaya bahwa proses pemecahan masalah akan timbul dari dalam diri klien itu sendiri karena hanya klien sajalah yang mengetahui dinamika dirinya seperti yang dialami oleh Will.

Keberhasilan dari terapi teknik ini yaitu adanya perubahan dalam diri klien baik karena rapport yang telah dibangun bersama, maupun sifat dan sikap konselor atau terapis seperti yang telah disebutkan diatas. Beberapa perubahan yang mungkin terjadi pada diri klien adalah sebagai berikut :

- Klien menjadi lebih seimbang, lebih terbuka terhadap pengalaman dan kecenderungan untuk menunjukkan perilaku bertahan (defensif) menjadi menurun atau semakin berkurang.

- Klien secara konsekuen menjadi lebih realistis, subyektivitas menjadi berkurang dan cara pandang dan hasil pengamatannya menjadi lebih luas.

- Pola pikir dan tingkah laku klien menjadi lebih efektif dalam rangka tujuannya ke arah pemecahan masalah.

- Penyesuaian psikologis klien meningkat, menjadi lebih bebas untuk mengekspresikan diri pribadinya.

- Kepekaan perasaan terhadap lingkungan yang dirasakan mengancam menjadi berkurang. Hal ini timbul sebagai akibat dari peningkatan keseimbangan self.

- Pola pengamatan (persepsi) klien terhadap self yang ideal menjadi lebih realistis.

- Sebagai akibat dari peningkatan penyesuaian psikologis, maka berbagai jenis tekanan jiwa yang biasanya dialami klien menjadi berkurang.

- Penghargaan positif klien terhadap selfnya sendiri meningkat.

- Klien menjadi lebih percaya diri dan terus terang.

- Penerimaan klien terhadap sosok orang lain mengalami peningkatan, padahal sebelum menjalani terapi klien merasa sulit untuk menerima orang lain dan cenderung untuk menghindar dari interaksi dengan orang lain.

- Klien menjadi lebih mampu untuk mengontrol perasaan dan perilakunya dan menjadi lebih kreatif.

Dan beberapa perubahan yang telah disebutkan diatas juga nampak dalam diri Will Hunting setelah menjalani proses konseling dan terapi bersama dengan Sean. Akhirnya Will Hunting menjadi dirinya sendiri yang autentik dan menjadi seorang manusia yang berfungsi sepenuhnya (fully functioning person) seperti yang dikemukakan oleh Carl Rogers.

Referensi :
Schultz, Duane. Psikologi Pertumbuhan: Model – Model Kepribadian Sehat. Jogjakarta: Kanisius, 1991.

Tags: , , , ,

Mood :

3 Responses :


1. zaza Says:

mmmmmmmm…



2. chryz Says:

Film yang sudah lama saya ‘hunting’ karena belum sempat nonton. Akhirnya saya dapatkan DVD originalnya. Ternyata memang bener ‘good’. Damon dan Affleck pantas dapatin oscar untuk skenario film ini.



3. Pink Says:

HI om ken! aku copi paste artikel mu tentang a beautiful mind buat penggunaan pribadi. masalahnya selama ini aku susah banget nyari referensi soal penyakit schizo yang berbahasa indonesia. Analisanya bagus. kenapa ga bikin buku tentang schizo om!



Leave a Reply





XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>



pakupaku

kenzKENZ.
Live in JOGJA [IDX0058] - INDONESIA,
interested in study about human behavior, enjoy some activities like coding, hiking in the mountains, surfing on the net, and listening 'hanging'.

Life Age: 13556 days
Emotional
78.2%
Bioritme Status
Physical
63.1%
Bioritme Status
Intellectual
-97.2%
Bioritme Status





Jangan Asal
Copy Paste, Blog Juga Hasil Karya Cipta.


Bloglines
Feedburner
Get KlipFolio
Get Firefox
Get Opera
Valid XHTML

Catatan Hanging RSS Feed RSS Entries
Catatan Hanging Comments RSS Feed RSS Comments
Catatan Hanging SideNotes RSS Feed RSS SideNotes

26q. 0.106s.
Powered by WordPress
© 2006
All rights reserved.

Kode Etik Blogger Indonesia