pakupaku
Saturday, 23.04.2005 10:30

Agresifitas pada Anak Kecil: Aan dan Ulil

Posted on Psychology.

Permasalahan:
Aan, Anak tetangga saya yang masih berumur 7 tahun sedang bermain mobil-mobilan dengan Ulil, anak tetangga saya yang lain yang berumur 9 tahun. Tanpa sengaja si Ulil menjatuhkan mainan punyanya si Aan hingga rusak. Pada awalnya si Aan menangis, namun sesaat kemudian dia berlari menuju si Ulil dengan mulut terbuka dan dengan cepat si Aan mengigit tangan si Ulil. Kejadian berikutnya si Ulil ganti memukul perut si Aan hingga gigitan si Aan lepas dan si Aan menangis dengan keras sehingga ibunya datang. Si Ulil pun segera lari masuk ke rumahnya.

Teori Agresi:

Robert Baron menyatakan bahwa agresi adalah tingkah laku individu yang ditujukan untuk melukai atau mencelakakan individu lain yang tidak menginginkan datang tingkah laku tersebut.


Dengan demikian ada 4 unsur dalam agresi, yaitu :
1. Adanya tujuan untuk mencelakakan
2. Ada individu yang menjadi pelaku
3. Ada individu yang menjadi korban
4. Ketidakinginan si korban menerima tingkah laku si pelaku

Perilaku agresi dimiliki oleh setiap orang karena hal itu merupakan bagian dari insting. Ada 2 teori yang dapat dijadikan referensi untuk menerangkan permasalahan diatas :

1. Teori Instink Psikoanalisa
Freud berpendapat bahwa dalam diri setiap manusia ada 2 jenis instink yaitu instink untuk mempertahankan kehidupan yang dikenal dengan eros dan instink untuk mati atau menghilangkan kehidupan yang disebut sebagai tanathos. Oleh karena itu agresi menurut Freud dapat dimasukkan ke golongan instink mati (thanatos) yang merupakan ekspresi dari hasrat kematian yang berada pada taraf tak sadar. Ekspresi agresi ini dihalangi oleh ego dan superego (aturan, orang lain, budaya) yang menekan hasrat ini agar tetap berada di taraf tak sadar. Ego memainkan peranan yang sangat penting dalam represi hasrat ini, selain itu ego juga mengendalikan hasrat kematian ini dengan sublimasi, yaitu penyaluran instink tersebut ke dalam aktivitas non agresif yang secara sosial bisa diterima masyarakat, misalnya dengan berolah raga, berkebun, berburu.

Teori ini direvisi oleh kaum NeoFreudian yaitu Wrighsman dan Deaux (1981), yang menyatakan bahwa agresi adalah bagian dari ego yang merupakan bagian kepribadian yang beorientasi pada kenyataan sehingga dorongan agresi adalah suatu hal yang sehat karena merupakan tujuan untuk menyesuaikan dengan lingkungan yang nyata dari manusia.

2. Teori Instink Mc Dougall
Menurut Mc Dougall dalam diri setiap orang terdapat instink untuk menyerang dan berkelahi. Dorongan dari naluri ini yaitu rasa marah karena suatu hal terutama karena merasa terancam atau kebutuhannya tidak terpenuhi.

Selain berasal dari dirinya sendiri, sifat agresi juga berasal dari hasil belajar sosial. Teori Belajar Sosial (Social Learning) yang dimotori oleh Bandura menekankan bahwa kondisi lingkungan dapat memberikan dan memelihara respon-respon agresif pada diri seseorang. Asumsi dasar dari teori ini yaitu sebagian besar tingkah laku individu diperoleh dari hasil belajar melalui pengamatan atas tingkah laku yang ditampilkan oleh individu – individu lain yang menjadi model. Anak – anak yang melihat model orang dewasa agresif secara kosisten akan lebih agresif bila dibandingkan dengan anak-anak yang melihat model orang dewasa non agresif.

Pembahasan :
Perilaku si Aan dan si Ulil memperlihatkan bahwa perilaku agresi sudah berkembang pada masa anak – anak. Pada anak – anak perilaku agresi masih tampak murni belum terpengaruh oleh banyak faktor lingkungan. Pendorong dari agresi pada anak – anak yaitu berkisar pada masalah marah, jengkel iri, tamak, dengan tujuan untuk kemenangan, menuntut keadilan, membenarkan diri, dan memuaskan perasaan. Ekspresi kemarahan yang mendorong perilaku agresi pada anak – anak belum dapat di represi oleh ego dan superego berbeda jika mereka sudah dewasa, maka perilaku agresi mereka akan disalurkan melalui bentuk – bentuk yang lain, misalnya supresi atau sublimasi.

Perilaku si Aan yang menggigit si Ulil merupakan perilaku yang masih murni dimana si Aan belum mengetahui bahwa pukulan lebih efektif daripada gigitan. Bisa dimengerti bahwa si Aan mengandalkan giginya karena pada usianya gigi mengalami pertumbuhan yang pesat dan tumbuhnya taring. Oleh karena itu secara tak sadar tertanam dalam pikiran si Aan bahwa gigi adalah senjata yang baik karena ia telah biasa menghancurkan makanan dan daging di dalam mulutnya, jika dibandingkan dengan ketika dia bayi yang hanya dapat memakan makanan lunak karena giginya belum tumbuh.

Berbeda dengan si Aan, Ulil adalah anak yang berumur lebih tua, setidaknya banyak hal yang sudah diketahuinya dari lingkungan. Ia juga lebih banyak mendapat respon lingkungan daripada si Aan, Ia sudah sering melihat macam-macam film kartun atau bacaan yang mempertunjukkan perilaku agresi. Maka tidak heran jika si Ulil tidak membalas si Aan dengan gigitan, namun ia membalasnya dengan pukulan seperti yang didapat dari film atau bacaan. Perilaku si Ulil yang mencontoh dari lingkungan bisa disebut sebagai social modelling yang diperoleh dari hasil pembelajaran. Kondisi superego Ulil juga telah berkembang sehingga ia sangat takut ketika Ibu si Aan datang, karena ia merasa bersalah dan menyadari perbuatannya tidak baik menurut lingkungan masyarakatnya.

Melalui pengalaman sederhana ini maka jelaslah bahwa hasrat agresi sebenarnya dimiliki oleh setiap orang dan merupakan bagian dari instink dasar manusia, namun ekspresi dari perilaku agresi dapat berupa macam-macam bentuk yang berkembang sesuai dengan perkembangan diri dan pengaruh faktor lingkungan. Hasrat agresi pada manusia tidak bisa dihilangkan karena itu adalah mekanisme pertahanan dan penyesuaian pada lingkungan, namun agresi ini dapat disalurkan dengan sublimasi ataupun direpresi ketika kontrol diri dan superego telah terbentuk kuat dalam seorang individu.

Sumber Pustaka :
Myers, D.G. 1999. Social Psychology. New York: The McGraw – Hill, Inc.
McDougall, W. 1908. An Introduction to Social Psychology. Boston:Luce.
Tri Dayakisni, & Hudaniah. 2001. Psikologi Sosial. Malang: UMM Press.
Walgito, B. 1980. Psikologi Sosial. Yogyakarta: Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi UGM.

Tags: , , , ,

Mood :

One Response :


1. tenna Says:

ada pengaruh agresi dengan bhsa yg digunakan ga? soalnya ank yg sering mnggunakan bhsa kasar akn cenderung berprilaku agresif. mksi ditggu skli jwbannya :)



Leave a Reply





XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>



pakupaku

kenzKENZ.
Live in JOGJA [IDX0058] - INDONESIA,
interested in study about human behavior, enjoy some activities like coding, hiking in the mountains, surfing on the net, and listening 'hanging'.

Life Age: 13558 days
Emotional
97.5%
Bioritme Status
Physical
13.6%
Bioritme Status
Intellectual
-81.5%
Bioritme Status





Jangan Asal
Copy Paste, Blog Juga Hasil Karya Cipta.


Bloglines
Feedburner
Get KlipFolio
Get Firefox
Get Opera
Valid XHTML

Catatan Hanging RSS Feed RSS Entries
Catatan Hanging Comments RSS Feed RSS Comments
Catatan Hanging SideNotes RSS Feed RSS SideNotes

26q. 0.110s.
Powered by WordPress
© 2006
All rights reserved.

Kode Etik Blogger Indonesia